Apa Anda masih ingat iklan rokok menggambarkan seorang anak perempuan bandel yg menerobos lampu merah, lalu ditangkap "polisi" yang menyamar jadi pohon. Ironis memang, tapi begitulah yang terjadi.
Beberapa tahun yg lalu, seorang teman yg tinggal di Cengkareng terbakar rumahnya. Penyebab kebakaran adalah arus pendek listrik pada AC. Yang aneh, pada waktu melapor ke polisi, korban kebakaran ini malah dimintai uang, alhasil teman saya ini harus merogoh koceknya tidak kurang dari enam ratus ribu rupiah.
Banyak kisah yg kita dengar membuat kita kehilangan kepercayaan pada institusi kepolisian, hingga slogannya "melindungi dan melayani" jadi tak berarti sama sekali, yg ada justru kecurigaan.
Baru-baru ada berita menarik di Jakarta Post edisi 3 Nopember 2007, judulnya Tough questions for police in Batam over drug factories. Inti beritanya kira-kira begini: si penulis menyampaikan keheranan bahwa polisi dengan cepat bisa menangkap pengguna beberapa butir pil ecstasy tapi pabrik ecstasy berskala raksasa bisa beroperasi bertahun-tahun tanpa terdeteksi. Di lain pihak rasio jumlah polisi di Batam dibandingkan jumlah penduduknya relatif lebih baik dibandingkan dg daerah lain (di dunia), selain itu pulau Batam juga relatif tidak terlalu luas (hanya 415 km2) sehingga sungguh aneh bahwa aktivitas pabrik ecstasy tidak terdeteksi.
Lebih jauh, Jakarta Post menulis: ...That police failed to spot the presence of an international drug syndicate has resulted in rumors that some officers were on the payroll of the drug ring...
Hal ini tentu saja langsung dibantah oleh pihak kepolisian dlm hal ini BrigJen Indradi Tanos, Direktur Divisi Narkotik.
Mana yg benar, walahualam kita tdk akan pernah tahu, kita berdoa saja supaya polisi Indonesia bisa "membersihkan" dirinya sendiri sebelum melakukan tugas membersihkan orang lain.
Wednesday, November 07, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment