Thursday, April 11, 2013

Soal BBM, Pemerintah Tidak Cerdas dan Tak Punya Visi

Konsumsi BBM yang sangat tinggi di Indonesia, sesungguhnya bukan masalah baru. Ini masalah klasik, sudah bertahun-tahun kita hadapi.  Setiap tahun pemerintah mengalokasikan anggaran negara yang cukup besar untuk membayar subsidi BBM ini. Reportase dari Koran Sindo tanggal 18 Maret 2013 menyampaikan bahwa volume BBM bersubsidi untuk tahun 2013 diperkirakan mencapai 46 Juta Kiloliter.

Problem bagi pemerintah adalah tingginya subsidi BBM ini yang membebani APBN, yang dari tahun ke tahun terus naik.  Solusi yang biasa dilakukan adalah menaikkan harga BBM, yang ujung-ujungnya menuai demo dari masyarakat dan memacu inflasi.

Yang lucu dan aneh adalah, selama bertahun-tahun pemerintah tidak pernah berhasil mengatasi masalah ini.  Jangankan mengatasi masalah, mengenali sumber masalahnya saja, saya kira pemerintah belum sampai. 

Di salah satu SPBU, ada spanduk seperti di bawah ini:

Atau kadang-kadang, di jalan raya Anda bisa menemukan mobil dengan stiker seperti ini:


Dua gambar di atas menunjukkan bahwa pemerintah tidak punya visi. Pertama bahwa masalah tingginya konsumsi BBM bukan masalah dari kendaraan dinas, instansi pemerintah dan TNI/POLRI.  Seandainya kendaraan dinas dilarang menggunakan BBM bersubsidi, kita hanya memindahkan pos pengeluaran anggaran dari semula subsidi BBM sekarang berpindah ke anggaran pembelian BBM di instansi pemerintah.

Bagaimana dengan ratusan ribu mobil lainnya, yang mayoritas adalah kendaraan pribadi, bukan bus umum atau truk.  Ratusan ribu kendaraan pribadi tersebut terus setiap hari terus mengkonsumsi ribuan liter bensin setiap hari, sekaligus mengotori udara dengan polusi dan menciptakan kemacetan di mana-mana.

Berita terbaru yang saya baca di media, bahwa Pertamina akan menggunakan teknologi IT untuk memonitor/membatasi pembelian BBM bersubsidi.  Setiap mobil akan dipasangi RFID, demikian pula setiap nozle pipa bensin di SPBU akan diberi RFID.  Setiap liter bensin yang masuk ke setiap mobil akan dimonitor dan dihitung, dengan demikian bisa diberi batas, pada satu angka tertentu secara otomatik pompa bensin akan mati tidak lagi bisa mengisi bensin pada mobil tersebut.

Solusi canggih sekaligus tidak tepat dan mubazir. 

Menurut saya, sekali lagi menurut saya, akar dari masalah ini adalah tidak adanya transportasi publik yang memadai, selama tidak ada transportasi publik yang memadai, selama itu pula banyak orang akan membeli kendaraan pribadi. Populasi mobil terus bertambah, kemacetan bertambah, polusi bertambah dan konsumsi BBM naik terus. Data BPS memperlihatkan dalam dua tahun saja (2009 - 2011) jumlah mobil pribadi bertambah lebih dari 20% atau lebih dari 1,6 juta mobil.

Menurut saya, sekali lagi menurut saya, pemerintah harusnya fokus pada bagaimana menyediakan transportasi publik yang baik dan memadai, yang massal, nyaman, tepat waktu dan cepat.  Dan transportasi massal yang baik seperti ini tidak harus kita menggunakan solusi yang mahal dan import dari luar negeri.  Cukup kita menggunakan teknologi KRL yang sudah bisa dibuat sendiri oleh PT INKA, teknologinya sederhana dan relatif murah kalau dibandingkan dengan subway misalnya. 

Jika transportasi publik yang bagus tersedia, saya yakin orang tidak akan berlomba-lomba membeli mobil pribadi, untuk apa beli mobil bagus dan mahal hanya untuk habiskan waktu berjam-jam di kemacetan.

Masalahnya adalah: seberapa cerdas pemerintah kita dan apakah pemerintah punya visi atau tidak.

Gambar di bawah memperlihatkan KRL produksi PT INKA.



Wednesday, March 27, 2013

Hukum, TNI dan POLRI

Kita yang tinggal di Indonesia berhak merasa khawatir dan resah, bahwa tidak ada jaminan keamanan di negeri ini. Peristiwa penyerbuan Lapas Cebongan, Jawa Tengah oleh sekelompok bersenjata tak dikenal sekali lagi membuktikan bahwa hukum sudah mandul, tidak ada jaminan keamanan, siapapun bisa melakukan apapun, kapanpun mereka mau.

Peristiwa penyerangan Lapas Cebongan terjadi pada Sabtu dinihari, 23 Maret 2013, pk 00.30. Pada peristiwa ini sekelompok orang bertopeng (sekitar 15 orang) menyerbu masuk Lapas Cebongan, setelah sebelumnya menyodorkan surat dari Kepolisian hendak meminjam tahanan. Kelompok ini masuk dengan paksa, merusakkan kamera CCTV, mengancam meledakkan granat, kemudian memaksa masuk ke ruang tahanan dan menembak mati empat orang tahanan pelaku penusukan terhadap Sersan Satu Santoso dari Kopassus, tiga hari sebelumnya. Seluruh rangkaian teror ini dilakukan hanya dalam hitungan belasan menit saja.

Pangdam Jawa Tengah, May Jend Hardiono Saroso sudah menyatakan bahwa anggota TNI tidak terlibat dalam penyerangan tersebut. 

Lepas dari pernyataan apapun dari Pangdam Jawa Tengah, orang bodoh sekalipun akan menghubungkan penyerangan (dan pembunuhan) di Lapas Cebongan dengan peristiwa penusukan terhadap anggota Kopassus tiga hari sebelumnya, yang berakhir dengan kematian Sersan Satu Santoso.
Jika pelaku penyerbuan tersebut bukan tentara seperti pernyataan Pangdam, maka beberapa pertanyaan muncul: kelompok apakah itu ? kenapa mereka bersusah-payah menembaki keempat tahanan yang baru terlibat atas kematian seorang anggota Kopassus, kalau mereka bukan Kopassus kenapa mereka menembak pelaku penusukan seorang Kopassus. Kalau mereka bukan tentara, dari mana mereka mendapatkan senjata api dan granat. Latihan dimana mereka bisa melakukan gerakan cepat, terkoordinasi dan terencana, dan seterusnya…….

Sekali lagi, kita sebagai warga negara berhak khawatir bahwa ada segerombolan orang bertopeng, tak dikenal di luar sana, berkeliaran tak ketahuan tinggal di mana dan datang dari mana, bersenjata api laras panjang, pistol dan granat. Sewaktu-waktu bisa masuk menyerbu Lapas, besok mungkin masuk warung, toko, sekolah atau tempat ibadah lalu menembaki orang yg tidak mereka sukai. Betapa celakanya hidup kita di negeri ini.

Belum lama berselang, kasus serupa terjadi di Baturaja, 7 Maret 2013, ketika sekelompok tentara dari Batalyon Artileri Medan, Martapura menyerang dan membakar kantor polisi di Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan. Empat orang polisi mengalami luka tusuk.

Dalama kasus kedua ini, sangat menarik kita menyimak pernyataan KASAD, Jend. Pramono Edhi: bahwa tentara yang melakukan tindak kekerasan tersebut pasti punya alasan kenapa mereka bertindak demikian....

Apa yang bisa kita simpulkan dari dua peristiwa yang baru saja terjadi ini, saya sendiri punya pemikiran demikian:
1. bahwa tentara tidak punya kepercayaan pada institusi kepolisian, bahwa polisi akan bertindak sesuai hukum, memproses para pelaku kejahatan dengan hukum yang adil
2. bahwa tentara sendiri merasa dirinya ada di atas, terbukti dengan mereka melakukan tindak menghakimi sendiri para pelaku kejahatan, bahkan bila perlu tentara tidak ragu-ragu menghancurkan dan membakar kantor polisi

Dua hal di atas sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita, sebab jika itu yang terjadi maka tidak ada lagi hukum di negeri ini, yang ada adalah kekuatan dan kekerasan senjata. Pemerintah, negara dan rakyat dilecehkan, bahkan oleh institusi yang dibiayai dari pajak yang dipungut dari rakyat sendiri.

Jika Presiden SBY punya wibawa, ketegasan, keberanian, visi dan sikap yang jelas, saya yakin kekacauan seperti ini seharusnya bisa secara perlahan-lahan diatasi.......

Friday, January 25, 2013

Logika sesat SBY terkait tindak Korupsi

Bahwa bapak presiden SBY tidak serius dalam menangani korupsi saya kira semua orang sudah tahu. Juga bahwa beliau tidak tegas dalam menengahi konflik antara KPK dengan POLRI soal beberapa isu korupsi, saya banyak orang sudah tahu.  Tapi bahwa bapak SBY punya logika berpikir yang sesat tentang perilaku korupsi.....  apakah Anda sudah tahu ?  Saya sendiri baru tahu tadi malam (Kamis, 24 Januari 2013) ketika menyaksikan tayangan Gesture di TV One.

Dalam acara Gesture tersebut ada wawancara dengan Ketua KPK, Abraham Samad, ditampilkan pula rekaman pernyataan presiden soal korupsi yang dilakukan pejabat.  Pernyataan tersebut ternyata diucapkan bapak SBY pada 10 Desember 2012 lalu, beliau antara lain mengatakan: 
".......kasus korupsi yang terjadi karena ketidak-pahaman pejabat......  maka negara wajib menyelamatkan mereka-mereka yang tidak punya niat untuk melakukan korupsi tapi bisa salah dalam mengemban tugas-tugasnya....."

Rekaman pernyataan presiden SBY bisa Anda lihat sendiri di youtube: http://www.youtube.com/watch?v=eUgMQV6WE2k silakan dicermati menit 1:08 sampai 1:35.

Menurut saya logika berpikir bapak SBY bukan saja aneh tapi juga sesat.  Hukum tidak mengenal "tidak tahu", lepas dari tahu atau tidak tahu, perbuatan korupsi harus dihukum.

Seandainya hukum di Indonesia merujuk pada pernyataan SBY tersebut, maka saya yakin perilaku korupsi akan semakin subur terjadi di Indonesia.  Para pejabat koruptor dengan mudahnya akan berkilah bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan salah. 

Menurut saya para pejabat yang digaji dengan uang pajak dari rakyat, harus paham prosedur hukum dan harus paham peraturan, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.  Jika tidak mampu, seharusnya mereka mundur dari awal, jika merasa mampu mereka harus bertanggung-jawab secara moral untuk mengupayakan kemajuan bangsa ini, tentu dengan tetap mematuhi rambu-rambu peraturan dan hukum.

Jangan salahkan rakyat jika mereka berpikir presiden mereka aneh, tidak tegas, ragu-ragu, lamban dan bahkan sesat......

Wednesday, January 23, 2013

Indonesia Banjir.....(kebodohan yg dilestarikan)

Minggu-minggu ini kita semua dibuat sedih, kesal, prihatin, lelah, mungkin juga marah, dongkol dan sebagainya segala emosi yang negatif bercampur teraduk-aduk, semuanya karena banjir besar yang melanda banyak tempat, tidak hanya di DKI Jakarta tapi juga Bekasi, Karawang, Jawa Timur, Makasar dsb.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan alam, curah hujan yang terlalu tinggi.....  

Menurut saya, banjir di Indonesia, dan khususnya di Jakarta merupakan bukti nyata kebodohan dan kebebalan bangsa ini dalam mengelola dan mengolah alam.  Pengelolaan lahan yang sembarangan, pembabatan hutan secara liar (karena tamak), pengelolaan tata kota juga sembarangan, tidak adanya ruang terbuka hijau untuk menyerap air, bukan hanya di Jakarta tapi juga di Bopunjur (Bogor Puncak Cianjur).

Pengelolaan sampah juga sembarangan, orang tidak malu membuang sembarang benda ke segala tempat, kadang bahkan membuang kasur atau sofa bekas di sungai.   Saluran-saluran air mampet.  Pemerintah membiarkan para pengembang properti berlomba-lomba membangun perumahan dan gedung perkantoran, tanah kosong habis dipakai untuk gedung dan tempat parkir.  Pemerintah tidak ada terpikir untuk membuat ruang terbuka hijau, taman-taman dengan pohon-pohon pelindung, yang bisa berfungsi ganda sebagai paru-paru kota, juga sebagai tempat resapan air.

Kebodohan dan kebebalan kita semakin parah, karena kita tidak pernah belajar dari pengalaman dan masa lalu.  Banjir besar sudah berulang kali terjadi, yang terakhir adalah tahun 2002 dan 2007.  Pemerintah tidak pernah terpikir untuk membuat solusi komprehensif jangka panjang. Pemerintah tidak pernah melakukan evaluasi atas pembangunan dan pengembangan
yang telah dilakukan.

Menurut saya, kita tidak perlu berpikir tentang proyek-proyek besar bernilai puluhan Trilyun rupiah.  Kita bisa mulai dari hal-hal kecil dan sederhana, misalnya:
- pemerintah membatasi dan mengatur penggunaan lahan untuk pembangunan gedung
- pemerintah mensyaratkan sekian persen dari setiap lahan yg dibangun harus dialokasikan untuk ruang hijau
- pemerintah mensyaratkan setiap rumah tinggal dengan luas minimal tertentu untuk membuat sumur resapan dan/atau biopori
- pemerintah menghentikan pembabatan hutan tak terkendali
- pemerintah mengkampanyekan pola hidup sehat dan bersih, tidak membuang sampah sembarang di segala tempat
- pemerintah mewajibkan setiap pengembang properti untuk membuat area terbuka hijau, sekian persen dari total luas area yang dipakai. area hijau wajib ditanami pohon pelindung dengan ukuran pohon tertentu
- pemerintah menertibkan kawasan puncak dari vila-vila mewah milik orang kaya Jakarta, yang tidak mengikuti ijin dan peraturan harus dibongkar

Hal-hal sederhana dan mudah yang bisa dilakukan asal ada itikad baik, keberanian dan hati yang bersih (yang tidak tertarik dengan uang suap dari pengusaha properti).  Jadi saya kira belum perlu kita berpikir tentang deep tunnel yang membutuhkan puluhan Trilyun rupiah itu.

Thursday, December 27, 2012

Selamat Natal kepada Warga Kristen/Katolik Indonesia

Lepas dari agama atau kepercayaan yang saya anut, apapun itu, setiap hari Natal saya selalu ingin mengucapkan Selamat Natal kepada umat Kristen/Katolik di Indonesia.
Menurut saya, mengucapkan selamat Natal semata-mata menunjukkan hormat dan toleransi kepada umat Kristen/Katolik dan sedikitpun tidak ada hubungannya dengan iman kepercayaan pada agama Kristen/Katolik.   Sama persis dengan bagaimana saya melihat Saudara-saudara Hindu atau Budha. 
Saya tidak percaya pada konsep Dewa-dewa dalam agama Hindu tapi saya menghormati Saudara-saudara kita di Bali yang memeluk agama Hindu.  Saya menghormati mereka dan kepercayaan yang mereka anut, bahkan saya turut bersuka-cita melihat mereka khusuk beribadat.
Sungguh memprihatinkan bagi saya, bahwa kita yang hidup di Indonesia, negeri yang kita cintai ini, hingga detik ini masih mempermasalahkan ucapan selamat kepada umat beragama lain.
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, bukan hanya sekedar mengucapkan selamat Natal, tapi bahkan hadir mengikuti ibadat Natal di Gereja Santa Katharina di Betlehem. Dia melanjutkan tradisi yang sudah dirintis oleh Yasser Arafat dulu, yang setiap malam Natal ikut menghadiri Misa Natal di Betlehem.
Bagi saya –sekali lagi- , selayaknya kita tidak perlu memasalahkan ucapan Selamat Natal ini kepada umat Kristen/Katolik.  Musuh kita sudah banyak, yaitu kemiskinan, kebodohan dan korupsi.  Korupsi adalah perbuatan yang paling haram dari segala yang haram. 
Kapan ya, muncul fatwa korupsi itu haram ?

Sebagai tambahan saya ingin mengutip sejumlah twit dari Goenawan Mohammad, budayawan dan wartawan senior Mingguan Tempo sbb:

"@gm_gm: Mengucapkan "Selamat Natal" itu artinya: "Selamat bergembira karena anda merayakan Natal". Bukan "Saya seiman dgn anda". @mcrcheen"
"@gm_gm: Mengucapkan "Selamat Hari Kelahiran Ratu Inggris" tak berarti "saya ikut jadi warga Inggris" atau "saya setuju sistem monarki utk RI"."
"@gm_gm: Bapak2 MUI, percayalah kpd teguhnya iman dan akal sehat umat Islam Indonesia. Mengucapkan selamat Natal itu tak membuat kami murtad."
"@gm_gm: Menurut pengalaman anda, sudah berapa orang berpindah jadi Kristen karena mengucapkan Selamat Natal kpd saudara, sahabat, tetangga?"
"@zuhairimisrawi: Selama belajar di al-Azhar, Mesir, saya tdk pernah menemukan ulama yg larang ucapkan SELAMAT NATAL"
"@gm_gm: Ucapan Natal Menko Polhukam, Djoko Suyanto: "Dgn kesediaan kita mengakui dan menghormati "yang lain" dan "berbeda" sbg etika kebersamaan"."


Wednesday, December 19, 2012

Pak Presiden yang Berbelas Kasih

Hampir setiap malam saya pulang ke rumah naik mobil lewat jalan Kol Sugiono (sambungan dari Jl Casablanca, yg menuju ke arah timur Jakarta, persis di samping BKT).  Sekitar jam 7 - 8 malam, saya sering melihat di sisi kiri jalan ada satu keluarga pemulung yg berjalan, si ayah mendorong satu gerobak yg hampir penuh terisi dengan botol plastik, gelas Aqua dsb.  Di dalam gerobak tersebut, di atas tumpukan botol plastik dan gelas Aqua, ada dua anaknya tertidur, yang satu agak besar mungkin usia sekitar 5 tahun, yang lebih kecil mungkin antara 1 - 2 tahun. Ibunya ikut berjalan di belakang gerobak tersebut, di samping ayahnya.   Terkadang saya lihat anak yang kecil digendong ibunya.

Setiap kali melihat mereka, selalu trenyuh hati saya, selalu saya bertanya-tanya di dalam hati, di mana mereka tinggal ? apa mereka punya rumah ?  bagaimana jika hujan, bagaimana mereka berteduh, padahal ada dua anak yg tertidur di atas tumpukan botol dan gelas Aqua bekas.  Bagaimana anak-anak itu makan hari ini, apa bisa kelak mereka bersekolah ? 

Sulit membayangkan ada satu keluarga yang hidup di atas gerobak di jalanan.  Sedih membayangkan hidup mereka. Sedih juga menyadari bahwa saya tidak bisa membantu apa-apa, selain doa dalam hati semoga Allah memberi mereka rezeki hari ini untuk makan minum dan tidur nyenyak tidak kehujanan.  Sedih juga membayangkan, membandingkan dengan banyak saudara kita di DPR sana, anggota Dewan yg terhormat, yang kursi rapatnya saja harganya belasan juta rupiah, yang setiap bulan pergi ke luar negeri untuk "studi banding" dengan anggaran Milyaran rupiah uang rakyat. 

-----------------------------------------------------------------------------

Sering juga saya bertanya-tanya dalam hati, kira-kira terbayang gak ya para pemimpin negeri ini bahwa masih ada (banyak) rakyatnya yang hidup di atas gerobak barang loak.   Kira-kira bagaimana nurani para anggota Dewan yang terhormat yang tanpa malu menghambur-hamburkan uang rakyat untuk kesenangan dan kepuasan diri sendiri.

-----------------------------------------------------------------------------

Tahukah Anda, bahwa presiden kita bapak SBY ternyata seorang yang berhati lembut dan penuh cinta kasih.   Beliau seorang humanis yang menaruh perhatian pada nasib dan derita orang lain.  Dua bukti nyata dapat Anda lihat dari beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.

Pertama adalah ketika pak SBY memberikan grasi kepada seorang narapidana kasus narkotika yang telah divonis hukuman mati.  Dia adalah Meirika Franola (Ola), yang telah divonis mati pada tahun tahun 2000 karena mencoba menyelundupkan 3 kg heroin dan 3 kg kokain di Bandara Soekarno Hatta saat hendak menuju London.  Jadi sudah 12 tahun, Ola mendekam di penjara.   Aneh bin Ajaib bahwa ternyata Ola yang sudah divonis mati ini ternyata masih menjalankan kejahatannya, mengkoordinasi bisnis narkoba dari balik sel. Dia mendapat keistimewaan boleh menggunakan HP di sel yang disalah gunakannya utnuk kejahatan.  Lebih aneh bin ajaib lagi, orang ini mendapat grasi dari Bapak Presiden SBY, tentu murah hati sekali bapak presiden kita ini.   Beliau pernah gak ya berpikir tentang generasi muda Indonesia yang dirusak dan dibuat bodoh oleh narkoba.

Kedua adalah simpati pak SBY kepada para koruptor, baca beritanya di Harian Kompas, 11 Desember 2012.  Saya tampilkan di bawah ini.



Tidak banyak orang yang tahu, ternyata pak SBY sangat peduli dengan para koruptor dengan keluarga mereka dan penderitaan yang harus mereka alami.  

Tidak hanya para koruptor yang masih dalam proses persidangan, para koruptor yang sudah diputus hukuman penjarapun mendapat siraman kasih yang bertubi-tubi dari pak SBY, terbukti setiap tahun pada Hari Raya, mereka mendapat remisi hukuman, sehingga boleh segera mendapatkan kebebasan lebih cepat dari yang seharusnya.

Monday, November 26, 2012

Mobil Siapa untuk Jakarta

Posting berjudul "Pilih Siapa untuk Jakarta" terjawab sudah.  Jokowi telah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta yang baru, saya bersyukur dan lega  dan tentu juga bergembira, bahwa setidaknya ada peluang perubahan untuk Jakarta yang lebih baik. Rekam jejak Jokowi selama menjabat Walikota Solo memberi saya keyakinan bahwa ada harapan baru untuk Jakarta yang baru. Di lain pihak terpilihnya Jokowi juga membuat saya lega dan bergembira bahwa ternyata warga Jakarta cukup cerdas untuk tidak terjebak pada kampanye SARA yang ramai terjadi pada proses kampanye calon gubernur DKI Jakarta.

Ingat Jokowi, saya jadi teringat dengan mobil Esemka hasil rekayasa beberapa siswa sebuah sekolah kejuruan tingkat menengah di Solo.  Keberanian Jokowi untuk kemudian menggunakan mobil tersebut sebagai kendaraan dinasnya, menurut saya juga perlu diacungin jempol.  Lepas dari kelebihan-2 atau kekurangan-2 yang masih ada pada mobil tersebut, dukungan moril dan dukungan politik yang diberikan oleh Jokowi itulah yang membedakan Jokowi dengan pemimpin lainnya di negeri ini.

Indonesia butuh pemimpin yang punya visi. Visi tentang membangun negeri, mensejahterakan rakyat, visi tentang membangun kemandirian, independen, tidak tergantung pada negara atau pihak lain.  Setidak-tidaknya dalam hal mengembangkan mobil nasional, bagi saya Jokowi punya visi. Sekali lagi lepas dari bagus atau tidaknya mobil Esemka, kita perlu memberi apresiasi terhadap karya bangsa. Seandainya -katakanlah mobil Esemka itu buruk dan tidak bermutu, tidak menjadi alasan bagi kita untuk mematikannya, justru seharusnya itu menjadi tantangan untuk memperbaiki kualitasnya.

Kembali ke Jakarta, masih nyambung dengan posting saya sebelumnya tentang "Tambah Mobil untuk Jakarta" dimana setiap hari populasi mobil bertambah, bahkan orang dipacu untuk terus membeli mobil baru.  Pertambahan populasi mobil terkait langsung dengan kemacetan yang saat ini menurut saya sudah di tingkat yang "aneh dan tidak masuk akal".

Dalam kondisi ini, pertanyaan lanjutannya adalah: siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan.  Masyarakat jelas dirugikan, karena harus mengalokasikan dana untuk membeli mobil pribadi (yang sebetulnya tidak perlu jika transportasi publik sudah bagus), masyarakat dirugikan karena macet dimana-mana menyebabkan inefisiensi dan pemborosan, masyaralat dirugikan karena tingkat polusi menjadi sangat tinggi, dampak buruk bagi kesehatan.

Siapa diuntungkan ?  sudah jelas para produsen mobil adalah pihak yang paling diuntungkan dari situasi bodoh ini.  Ratusan  juta rupiah dibelanjakan masyarakat untuk memperkaya para pelaku industri mobil, pabrik mobil (yang semuanya adalah pihak asing) karena Indonesia tidak punya mobil nasional, para ATPM (agen tunggal pemegang merk), para dealer dsb. 

Sekali lagi hal ini membuktikan bahwa para penyelenggara negeri ini tidak cukup cerdas untuk bisa mengelola dirinya sendiri dengan baik.  Kok mau-maunya menjadi orang bodoh dan dibodohi oleh negara lain, kita rakyat Indonesia kebagian harus membayar biaya hidup yang tinggi plus harus menghirup udara yang sudah dicemari asap knalpot dari ribuan mobil di Jakarta.  Di lain pihak, uang yang kita bayar memperkaya para pengusaha dan pabrik mobil (asing).  Plus presiden SBY (jika tidak sedang main gitar) curhat harus mengalokasikan trilyunan Rupiah untuk subsidi BBM.

Dalam konteks inilah, saya mengapresiasi langkah Jokowi yang dengan berani memperkenalkan dan bahkan menggunakan mobil ecek-ecek karya siswa SMKN dari Solo sebagai mobil dinasnya.

Mudah-mudahan di masa mendatang akan lebih banyak lagi Jokowi-Jokowi lainnya........
 

Tuesday, October 02, 2012

Tambah Mobil untuk Jakarta

Jika Anda tinggal di Jakarta, punya kehidupan yang baik (penghasilan cukup dan pekerjaan tetap tentunya). Ingin hidup yang nyaman, rutin berangkat kerja ke kantor setiap pagi tanpa harus berdesakan di bus yang penuh penumpang berkeringat. Ingin menikmati akhir pekan di Jakarta sambil jalan-jalan bersama keluarga.  Maka bisa dipastikan bahwa Anda akan merasa membutuhkan mobil pribadi, dan saya kira hampir pasti Anda akan membelinya -karena Anda mampu-.  

Berapa banyak orang seperti Anda di Jakarta ini ?  Di kantor saya, beberapa pegawai yang belum lama diterima di perusahaan, umum terjadi setelah beberapa tahun bekerja, kemudian menikah, dan tak lama kemudian punya mobil sendiri, yang dipakai berangkat kerja bersama istri atau suami.  Saya kira itu hal yang umum terjadi dimana-mana, angkatan kerja usia produktif, karyawan muda, eksekutif muda, hampir semuanya saya yakin pada satu saat akan merasa membutuhkan mobil pribadi, karena fasilitas transportasi publik yang tidak memadai.

Hal itu yang saya ingin ajak Anda untuk renungkan saat ini.  Berapa banyak populasi mobil di Jakarta dan seberapa cepat laju pertumbuhannya ?   Seberapa macet Jakarta saat ini ? seberapa besar biaya yang terbuang menguap percuma karena macet.

Jika mau jujur, itu sebetulnya adalah potret kegagalan pemerintah menyediakan sarana transportasi publik yang baik.  Jika saja transportasi publik itu cukup nyaman, cukup banyak jumlahnya, maka orang tidak perlu menunggu begitu lama untuk mendapatkan kendaraan berangkat dan pulang kerja. Setelah masuk buspun tidak harus bersesakan dengan penumpang lain.

Hal tersebut tidak hanya menunjukkan kegagalan pemerintah menyediakan transpotasi yang baik tapi juga membuktikan bahwa pemerintah tidak punya visi, bukan hanya tentang bagaimana menyediakan prasarana yang baik tapi lebih jauh adalah bagaimana mengelola negeri ini. Isu transportasi publik dimana semua orang dipacu untuk memiliki mobil pribadi erat sekali kaitannya dengan konsumsi BBM Indonesia yang sangat tinggi.  Pemerintah berulang-kali mengeluhkan tingginya anggaran yang diserap untuk memberi subsidi BBM, tapi di lain pihak pemerintah membiarkan masyarakat berlomba-lomba memiliki kendaraan pribadi yang sudah jelas meng-konsumsi BBM yang sangat tinggi. Pemerintah tidak punya visi, tidak punya konsep.

Bandingkan dengan Malaysia. Sewaktu saya ke Kuala Lumpur beberapa waktu yang lalu, dimana-mana saya lihat poster kampanye hijau untuk mengurangi kendaraan pribadi, polusi berkurang, konsumsi BBM juga berkurang, biaya yang harus dikeluarkan lebih sedikit, hidup lebih sehat dan nyaman. Tapi di lain pihak secara paralel pemerintah menyediakan fasilitas MRT yang bagus dan nyaman dalam jumlah cukup.   Saya kira pemerintah Indonesia tidak cerdas dalam hal ini.


Sabtu lalu tanggal 30 September 2012 saya berkesempatan ke pameran mobil IIMS (Indonesia International Motor Show 2012).  Luar biasa ramainya pengunjung, kendaraan masuk ke area parkir antri dan macet.    Kesempatan bagus yang dimanfaatkan penyelenggara, karcis masuk mobil Rp 10.000.- plus "ongkos parkir tak resmi" antara Rp 2.000.- sampai Rp 5.000.-



Di satu sisi pamerannya OK banget, mobil-mobil bagus dengan model terbaru, harga promosi tentu sangat menarik. Jumlah transaksi saya yakin terjadi hingga Milyaran Rupiah, dari sudut pandang penyelenggara (dan secara ekonomi) pameran ini berhasil baik sekali.

Tapi di lain pihak, kita patut prihatin. Bahwa semakin banyak mobil yang terjual, semakin penuh Jakarta. Semakin macet, semakin tinggi polusi, semakin besar konsumsi BBM, semakin tinggi alokasi budjet untuk subsidi BBM.  Hidup kita tidak menjadi lebih nyaman, malah sebaliknya....

(gambar terlampir adalah iklan pembiayaan mobil dari BII, diambil dari tempat pameran IIMS 2012)

Wednesday, September 19, 2012

Pilih Siapa untuk Jakarta

Tanggal 20 September besok adalah hari penting bagi warga Jakarta, karena proses pemilihan gubernur baru.  Tentu ini sangat menarik, karena bagaimanapun Jakarta adalah (diharapkan) barometer bagi kota-kota lain di Indonesia. Kalau Pilkadanya oke dan lancar, serta gubernur yang terpilih nantinya terbukti bisa membawa perubahan dan kemajuan bagi Jakarta dalam lima tahun ke depan, tentu kita boleh berharap hal yang sama untuk kota-kota lainnya.

Namun apa yang terjadi dalam proses Pilkada di Jakarta ini jauh sekali dari yang diharapkan, memprihatinkan dan membuat hati getir (galau kata anak muda jaman sekarang).  Bagaimana tidak, kampanye calon gubernur yang seharusnya menjadi ajang untuk adu visi, misi dan konsep diselewengkan menjadi tempat untuk menyudutkan pihak lainnya dengan isu SARA.  Isu yang kalau menurut Mingguan Tempo, "tidak bermutu" (Majalah Tempo edisi 17-23 September 2012).

Saya setuju sekali, mengusung issue SARA, entah itu agama atau etnis dari salah satu calon sungguh-sungguh tidak bermutu. Sesempit itukah cara kita berpikir ?

Saya ingat sekitar akhir tahun 1998 lalu setelah jatuhnya Soeharto, saya melempar pertanyaan ke teman-teman sekantor, "Kalau ada seorang Cina yang bisa membangun Indonesia sedemikian maju hingga menaikkan nilai tukar Rupiah, 1 Dollar AS setara Rp 2.000.-, relakah kalian orang Cina tersebut menjadi Presiden Indonesia ?".  Aneh bin Ajaib, tak seorangpun berani menjawab YA, lebih tepatnya tak seorangpun yang berani menjawab apapun. Semua hanya terdiam......  (mungkin dalam hati menyesalkan kenapa ada pertanyaan seperti itu).

Saya sekali lagi mengajak Anda merenungkan pertanyaan yang sama tersebut, sebuah perenungan imajiner.

Katakanlah kita hendak memilih pemimpin. Ada dua calon, yang satu seiman dengan kita, pandai, Doktor lulusan negara maju, tapi dia arogan, korup dan tak punya visi.  Calon lainnya beda iman dengan kita, sederhana, hanya Sarjana lulusan lokal, tapi dia jujur, adil, rendah hati, bersih dan transparan, dan yang paling penting punya visi tentang membangun masyarakat (tidak hanya bagian masyarakat yang kaya tapi juga terlebih memikirkan nasib rakyat miskin dan menderita).   Calon mana yang hendak Anda pilih ?

Bagaimana Anda akan menilai aspek "seiman dengan kita" dibandingkan dengan banyak aspek lainnya.  Ini hanya renungan imajiner saja, jadi silakan Anda pikirkan dengan bebas tanpa beban.

Monday, September 17, 2012

Selamat datang di Bumi Indonesia yang Getir

Bagi saya kelahiran adalah selalu kegembiraan. Karena dalam kelahiran selalu ada harapan, keinginan dan doa.  Ketika seorang bayi lahir dan menangis, seketika itu juga diucapkan doa dalam hati orang tuanya. Doa agar anak ini sehat, pintar, berbudi luhur, membawa kegembiraan,.......

Bahkan kelahiran itu sendiri bagi banyak orang adalah jawaban dari doa, dari penantian (yang mungkin) bertahun-tahun lamanya.  Bagi sejumlah orang mungkin kelahiran anak adalah hal biasa dan cepat, namun bagi sejumlah orang lain bisa jadi ada klimaks dari penantian bertahun-tahun dan upaya dan doa tak henti-henti.  Di sini kegembiraan dan kebahagiaan menjadi semakin terasa.



Tidak hanya kelahiran bayi manusia, bagi saya kelahiran hewan sekalipun adalah kegembiraan, terutama hewan-hewan langka, yang dilindungi, hewan-hewan yang menjadi bukti hidup atas kekayaan aneka ragam hayati di Indonesia.  Kelahiran hewan langka menjadi semakin disyukuri jika kita lihat pemerintah negeri ini sudah terlalu sibuk dengan begitu banyak urusan sehingga lupa merawat dan memelihara kekayaan alam kita.

Ucapan selamat disampaikan dengan hati yg getir, prihatin. Ada harapan tapi juga ada kekhawatiran, apakah hidup hewan-hewan langka ini bisa berlangsung lama, adakah cukup perhatian dari kita semua, ada cukup kecerdasan dan kearifan kita untuk sekali lagi mensyukuri anugerah yang tak terkira indahnya ini.

Kenyataan berbicara bahwa di Bumi Pertiwi ini jangankan hewan, bahkan nyawa manusia saja tidak dihargai. Tentu kita masih ingat  berapa orang yang tewas sia-sia pada peristiwa mudik tahun ini. Ratusan orang tewas karena tidak adanya kepedulian pada sesama manusia.  Nasib hewan tentu jauh lebih parah, hewan Anoa yang dilindungi, dagingnya diperjual-belikan secara bebas (foto dari Harian Kompas, 1 September 2012).

 

Monday, September 10, 2012

Senjata Apa, Untuk Siapa

Percaya nggak, Indonesia punya kapal siluman ?   Sabtu, 1 September 2012, saya sempat kaget membaca harian Kompas, bahwa TNI AL baru saja meluncurkan kapal silumannya, yg diproduksi di dalam negeri oleh PT Lundin Industry Invest, Banyuwang, Jawa Timur.

Antara kagum, heran dan bertanya-tanya, itu reaksi saya, saya bukan pengamat militer, namun saya hobby mempelajari hal-ihwal yang terkait militer persenjataa dan sejarah perang.   Dan berdasarkan apa yang saya pahami, banyak hal yang tak jelas bagi saya.

Dua pertanyaan terbesar saya yang bisa menjadi bahan diskusi bagi Anda yang tertarik:
  1. kenapa Indonesia meluncurkan kapal siluman ini, apa urgensinya, apakah memang ada ancaman nyata yang perlu dihadapi dengan kapal perang jenis ini
  2. kenapa Indonesia begitu yakin dengan kapal buatannya sendiri, apakah sudah diuji dan ditest dengan baik, sekedar info saja di dunia saat ini hanya ada satu negara yang mengoperasikan kapal siluman yaitu Amerika Serikat, belum ada satupun negara di luar AS yg mengoperasikan kapal serupa.
Pertanyaan pertama terkait apakah memang Indonesia membutuhkan kapal seperti ini.  Apakah ancaman nyata yang dihadapi Indonesia saat ini ? apakah pencurian ikan, atau ancaman agresi Malaysia merebut sejumlah pulau Indonesia ? atau ancaman dari Cina ?  Saya tidak ingin berdebat kusir, hal-hal seperti ini adalah wewenang Dephankam untuk menjelaskan, mudah-mudahan mereka sudah menjelaskan, hanya informasinya saja yang tidak sampai ke publik.

Jika pertanyaan pertama sudah terjawab dengan baik, barulah kita perlu masuk ke pertanyaan kedua. Yang menjadi keheranan saya, bahwa fakta selama ini Indonesia dikenal tidak begitu menghargai produk dalam negerinya sendiri, selalu cenderung lebih percaya pada produk luar negeri.  Di sinilah keheranan muncul, reaksinya bisa kagum karena keberanian petinggi TNI AL mengambil keputusah untuk percaya pada produk dalam negeri.  Reaksi sebaliknya adalah mempertanyakan kebijakan tersebut, kenapa percaya pada produk dalam negeri yang belum teruji.

Isu senjata ini menjadi semakin hangat dipergunjingkan sejak munculnya kabar TNI AD hendak membeli tank berat (MBT Main Batrle Tank) type Leopard 2 dari Jerman dalam beberapa bulan terakhir.  Pertanyaan yang utama masih sama, apakah urgensinya membeli tank kelas berat itu, apakah memang ancaman nyata yang ada perlu dihadapi dengan tank berat.  Apakah sekedar supaya tidak kalah dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang sudah terlebih dahulu mempunyai tank serupa ?

Bagi saya isu ini menjadi semakin menarik setelah membaca sebuah kolom di majalah Mingguan Tempo, edisi 10-16 September 2012, kolom berjudul "Ruwetnya pengadaan persenjataan TNI" ditulis oleh Djoko Susilo, mantan anggota Komisi Pertahanan DPR 1999-2009.

Betapa ruwetnya proses pengadaan, menunjukkan betapa tidak seriusnya pemerintah (dan tentara) dalam urusan pengadaan persenjataan.  Menurut saya problem terbesar adalah adanya pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan langsung dari proses pengadaan (baca: korupsi), dan pemerintah tidak mampu atau tidak mau mengendalikan proses pengadaan ini dan menjaganya tetap bersih dan transparan.

Saya tidak setuju dengan Djoko Susilo terkait keprihatinannya dengan keterbatasan budjet anggaran pertahanan.  Menurut saya yang terpenting adalah bagaimana budjet yang tersedia digunakan dengan sebaik-baiknya, secara bersih, akuntabel, transparan, terencana.  Yang terjadi saat ini budjet yang sudah kecil dikorupsi pula, jika budjet diperbesar tanpa membuang terlebih dahulu mental korup, maka yang terjadi adalah korupsinya juga semakin besar.

Thursday, August 23, 2012

Prihatin di Kebon Binatang

Hari Rabu kemarin tanggal 22 Agustus 2012, saya ajak keluarga jalan-jalan ke Kebon Binatang Bandung, mumpung masih libur, kami manfaatkan waktu untuk berwisata sejenak.   Namun dalam kesempatan ini saya bukan ingin cerita tentang wisata di Kebon Binatang itu, melainkan pada dua hal yang agak mengganggu saya terkait parkir dan pengelolaan karcis masuknya.

Pertama adalah biaya parkir sebesar sepuluh ribu rupiah. Saya sempat kaget oh tinggi sekali biaya parkirnya. Saya menerima karcis parkir dan setelah saya amati, bagian tarif parkir ditulisi dengan spidol hitam Rp 10.000.- menutupi tarif yang aslinya tercetak di karcis tersebut.  Setelah saya amati lebih teliti, tarif asli yang tertera pada karcis tersebut adalah Rp 1.000.- saja, jadi tarif telah dilipatgandakan sebesar 10 kali.

Bukan saya tidak ikhlas membayar parkir sebesar sepuluh ribu, tapi yang terpikir oleh saya, dikemanakan uang tersebut, apakah pungutan tersebut resmi, apakah disetorkan ke Pemda Bandung ?   Atau itu merupakan "kejahatan" yang dilakukan tukang parkir bekerja sama dengan aparat kepolisian ?  Karena mustahil polisi (yang saya lihat ada beberapa berjaga-jaga di tempat tersebut) tidak mengetahui hal ini.

Kejanggalan kedua terjadi pada pintu masuk. Harga karcis Rp 20.500.- perorang (anak usia 3 tahun ke atas bayar penuh).   Setelah saya membayar karcis dan melewati pintu masuk, karcis diminta oleh petugas, tapi anehnya karcis tidak disobek dan diserahkan kembali ke saya, melainkan karcis tersebut tetap utuh dan dipegang oleh petugas pintu masuk.  Lewat beberapa langkah, saya baru sadar kemudian kembali ke petugas dan meminta sobekan karcisnya.

Jelas bahwa petugas pintu masuk telah lalai atau melanggar prosedur, karcis harus disobek, sebagian diserahkan kembali ke pengunjung dan sebagian ditahan oleh petugas, prosedur ini dimaksudkan agar karcis tidak bisa digunakan kembali oleh pengunjung karena memang hanya berlaku untuk satu kali masuk.  Dengan tetap ditahan utuh oleh petugas, terbuka peluang dilakukannya penyelewengan, karcis yang masih utuh bisa dijual kembali oleh petugas dan uang yang diterima tidak disetorkan ke pengelola Kebon Binatang tapi ke kantong petugas yang menyalahgunakan wewenangnya.

Sekali lagi bukan saya tidak ikhlas dengan Rp 20.500.- tapi kita berkewajiban untuk turut memastikan bahwa uang yang kita bayar sampai pada mereka yang berhak mendapatkannya, dalam hal ini pengelola Kebon Binatang yang membutuhkan dana operasional yang tidak sedikit untuk merawat, memelihara dan memberi makan semua satwa koleksi Kebon Binatang.

Kebetulan hari Rabu kemarin adalah H+3 Idul Fitri, banyak sekali warga yang datang berkunjung, Kebon Binatang sangat padat dan ramai.  Silakan Anda bayangkan sendiri jika petugas menyalahgunakan wewenangnya, berapa banyak uang yang seharusnya disetorkan untuk pengelolaan tempat ini, "menguap" begitu saja, atau tepatnya diambil untuk keuntungan pihak-pihak yang tidak berhak.

Saya prihatin, sekali lagi prihatin, peristiwa ini semakin menguatkan "tuduhan" saya atas bangsa dan negeri ini sebagai negeri para maling, sinis memang tapi itulah fakta.  Tidak salah kiranya kalau dari tahun ke tahun negara kita dikenal sebagai negara yang paling korup, karena memang korupsi sudah mengakar di hampir semua sendi kehidupan. 

Wednesday, August 22, 2012

Mohon maaf Lahir & Batin, Selamat Idul Fitri 1433H

Dari tahun ke tahun, suasana menjelang dan selama Idul Fitri di Indonesia tidak banyak berbeda.  Khusus di Jakarta, pola waktu macet sedikit berubah.  Macet mulai lebih awal, karena jam kerja lebih singkat, dan orang ingin cepat segera sampai di rumah supaya bisa berbuka bersama keluarga.  Yang saya rasakan (dari tahun ke tahun sama) adalah para pengemudi menjadi lebih bringas, tidak sabaran, ingin cepat jika perlu serobot kiri kanan.  Lucu memang, jadinya seperti ada yang tidak pas, di saat kita diajak untuk mengendalikan hawa nafsu (bukan hanya nafsu makan dan minum tentunya).... tapi justru di jalanan orang berperilaku sebaliknya. 
---------

Berulang dari tahun ke tahun hal yang sama terjadi, ratusan ribu orang mudik pulang ke kampung halaman. Bagi yang beruntung memiliki mobil kondisinya masih lumayan, tapi bagi banyak saudara kita yang tidak punya mobil dan terpaksa harus naik sepeda motor, sungguh memprihatinkan.

Miris hati saya membaca berita di koran, para pemudik dengan sepeda motor, membayangkan kelelahan dan penderitaan yang harus mereka alami. Panas terik, beban berat, jalan rusak, kemacetan dan belum lagi bahaya yang mengancam sepanjang perjalanan, dan itu semua harus dijalani dalam kondisi berpuasa. Terlebih yang membawa anak-anak kecil.........   Di satu sisi ada rasa haru, saya melihat ada iman, ada ketangguhan, ada kekuatan, ada kesabaran, ada cinta kasih dalam diri saudara-saudara kita yang harus bersusah payah mudik dengan sepeda motor. 

Di lain sisi saya melihat -sekali lagi- betapa kurangnya perhatian pemerintah pada mereka, jika kita tidak mau menggunakan kata "gagal".  Jujur saja, bahwa penderitaan para pemudik ini terjadi karena pemerintah telah gagal menyediakan transportasi yang layak bagi mereka. Pemerintah telah gagal mengadakan pemerataan pembangunan dan kemakmuran, sehingga rakyat dari desa dan pelosok semuanya berangkat ke kota besar mencari rezeki. 

Lebih miris lagi membaca tingginya korban tewas para pemudik, Kompas, 22 Agustus 2012 melaporkan angka korban tewas sudah mencapai 574 orang, dimana sekitar 70% kendaraan yang terlibat kecelakaan adalah sepeda motor. Ini tentu menjadi duka cita bagi kita semua.  Yang lebih memprihatinkan lagi adalah pertanyaan sadarkah pemerintah bahwa ini adalah tanggung-jawab mereka.

Mohon maaf lahir dan batin, Selamat Idul Fitri 1433 H.

Sunday, August 19, 2012

Dirgahayu Republik Indonesia 67 Tahun

Tahun 2012 ini Indonesia memperingati kemerdekaannya yang ke-67.  Kondisi masih memprihatinkan.

Kita sudah bebas dari kolonialisme Belanda dan Jepang, tapi sekarang kita dijajah oleh bangsa sendiri, oleh para pemimpin korup, para Jendral Polisi yang korup, anggota DPR yang korup dst dst.

Pagi-pagi dengar berita di televisi, koruptor kakap Gayus Tambunan mendapat remisi 4 bulan.  Lagi-lagi menunjukkan inkonsistensi Presiden SBY dalam pemberantasan korupsi.  Sementara Harian Kompas memberitakan KPK menangkap dua hakim Pengadilan Tipikor di Semarang karena diduga menerima suap.

Prihatin, sekali lagi prihatin kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan kita saat ini.  Namun saya masih optimis bahwa Indonesia bisa menjadi lebih baik.  Kita masih punya pejuang: Abraham Samad dengan KPKnya.  Samad sudah membuktikan keberaniannya, kebulatan tekadnya dan perjuangannya tak kenal takut melawan korupsi.

Mengutip editorial dari Mingguan Gatra yang mengatakan bahwa kemerdekaan hanya bisa dicapai lewat dua cara: diberikan (oleh penjajah) dan direbut/diperjuangkan (dari penjajah).  Jika benar Indonesia masih dijajah oleh bangsa sendiri, oleh pemimpin dan penguasa yang korup, maka kita diajak untuk melawannya. Melawan tidak harus secara frontal dengan kekerasan, minimal berangkat dari diri sendiri untuk bekerja jujur dan besih (jangan jadi koruptor), mengajari anak-anak kita untuk bersih dan jujur, tidak mengambil hak orang lain.  Bentuk yang lebih nyata lagi misalnya dengan ikut menyumbang langsung untuk KPK.  Sampai akhirnya bentuk yang paling ekstrim dan berani, adalah seperti yang dilakukan Abraham Samad.

Mari dukung KPK, mari dukung Samad. Dirgahayu Indonesia Raya !

Thursday, August 16, 2012

Mari Dukung KPK perangi korupsi !

Indonesia sudah terkenal sebagai salah satu negara paling korup di dunia.  Sedemikian korupnya, hingga kejahatan korupsi dilakukan oleh hampir semua pihak dari hampir semua sektor dan instansi pemerintah, termasuk aparat penegak hukumnya.  Sedemikan parahnya korupsi di Indonesia, sehingga upaya penyidikan/pengusutan kasus korupsipun dihalang-halangi, bahkan oleh aparat hukum sendiri.

Kisruh antara KPK dengan POLRI terkait kasus pengadaan simulator mengemudi oleh Korlantas POLRI semakin meneguhkan dugaan itu.  Silakan baca reportase lengkap dan lugas dari Mingguan Tempo (salut saya untuk Mingguan Tempo), edisi 13 Agustus 2012.

Aneh bin tidak masuk akal bahwa upaya KPK untuk melakukan penyidikan dihalang-halangi oleh POLRI. Bahkan polisi melakukan penyadapan dan menguntit para pimpinan KPK. 



Foto diambil dari Harian Kompas, 16 Agustus 2012.

















Belum cukup rupanya upaya menentang KPK oleh POLRI.   Upaya lain lewat jalur yang lebih terstruktur rupanya juga dilakukan oleh DPR. Saat ini mereka sedang melakukan revisi atas UU tentang KPK, anehnya revisi ini justru melemahkan KPK antara lain dengan memangkas beberapa kewenangan KPK.

 







Wednesday, August 15, 2012

Sengketa POLRI vs KPK, Menguji nyali (dan akal) Presiden SBY

Setelah dulu pernah ribut-ribut antara POLRI dengan KPK, dengan isu Cicak vs Buaya.  Akhir-akhir ini kisah serupa terulang lagi. Diawali dengan langkah berani dan proaktif dari KPK menyelidiki kasus pengadaan Simulator oleh Korlantas Polri.

Bagi Anda yang tertarik mendalami kasus ini, silakan baca reportase lengkap dari Mingguan Tempo. Dua edisi terakhir Tempo (6 dan 13 Agustus) membahas kasus ini.

Saya akan menyarikan saja informasinya dalam tabel untuk memudahkan Anda mempelajari fakta yang terjadi.








... bersambung...

Friday, August 10, 2012

Demokrasi Aneh di Negeri Orang Bodoh

Paska tahun 1998, negara kita sering disebut-sebut sudah menerapkan demokrasi dengan sangat baik.  Mungkin yang dimaksud adalah rakyat punya kebebasan yang besar, bebas memilih, bebas dipilih, bebas mencalonkan diri, bebas membuat partai politik dst. dst. 

Di satu sisi mungkin OK, tapi apa iya demokrasi seperti itu yang diinginkan atau yang dibutuhkan oleh negara kita ?

Pemilu Indonesia mungkin yang paling unik di dunia (atau paling aneh ?) sebab diikuti banyak sekali partai politik, bukan belasan tapi puluhan.  Jumlah partai politik bisa bertambah sewaktu-waktu, kalau dalam satu partai terjadi konflik internal, misalnya ada dua atau tiga tokoh sama-sama ingin mencalonkan diri jadi presiden, potensial sekali partai tersebut bakal pecah menjadi dua atau tiga.  Hal ini terbukti sudah terjadi, Hanura adalah "pecahan" dari Golkar setelah Wiranto tidak mendapat dukungan yang dia harapkan dari Golkar.  Demikian pula Partai Nasdem yang didirikan oleh Surya Paloh yang tadinya salah satu tokoh Golkar.

Berita terakhir saya baca di Koran Tempo edisi 9 Agustus 2012, Yenni Wahid sedang mengurus pembentukan Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) yang merupakan gabungan dari Partai Kemakmuran Bangsa Nusantara dan Partai Indonesia Baru. 

Kenapa kira-kira rakyat Indonesia dan wakil-wakilnya ini begitu gemar mendirikan partai ?  Anda punya dugaan ?

Saya punya dugaan -hanya dugaan- bahwa hal konyol tersebut di atas terjadi karena siapapun yang membentuk partai pada saat proses pembentukan partai tersebut, pada dasarnya bukan berpikir tentang bagaimana mensejahterakan rakyat, bukan berpikir tentang bagaimana memajukan negara ini.  Para pendiri partai pertama-tama berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri, kelompoknya atau golongannya. 

Dalam perjalanan waktu, begitu sang pendiri partai mengalami konflik dengan pengurus yang lain, dan konflik tersebut berdampak langsung pada kepentingan pribadinya, maka perpecahan akan sulit dihindarkan.

Saya yakin hasilnya akan berbeda, jika sejak awal partai didirikan, seluruh elemen partai, para pendiri, para pengurus memusatkan seluruh perhatian pada kepentingan rakyat dan bangsa.  Tidak ada niat untuk -misalnya- memperkaya diri sendiri atau memberi keuntungan bagi golongan sendiri.

Coba kita bandingkan dengan Amerika Serikat.  Saya bukan pengagum Amerika Serikat, tapi harus diakui dalam banyak hal kita bisa belajar dari mereka. Sejak puluhan tahun di Amerika hanya ada 2 partai saja: Republik dan Demokrat.  Sejauh yang bisa saya lihat para kader di kedua partai ini solid dan saling mendukung. Menjelang pemilihan presiden misalnya, ada mekanisme internal masing-masing partai untuk memilih calon yang akan mewakili partai mereka dalam pemilihan presiden. Selama proses ini berlangsung akan terjadi kompetisi ketat di antara para calon, tapi begitu ditetapkan satu pemenang yang akan mewakili partai, maka pihak yang kalah secara ksatria akan mengakui dan menerima kekalahannya dan terhitung saat itu memberikan dukungannya penuh kepada rekan satu partai untuk maju bersaing melawan calon presiden dari partai lainnya.

Apakah hal serupa itu terjadi di Indonesia ? silakan lihat sendiri bagaimana proses pencalonan presiden di Indonesia. 

Sistem multipartai Indonesia menimbulkan masalah lain. Karena banyaknya partai yang berebut suara, akhirnya perolehan suara masing-masing juga tidak begitu besar.  Korelasinya dengan jumlah wakil yang menduduki kusi anggota DPR juga akan sedikit untuk masing-masing partai.  Katakanlah presiden yang terpilih berasal dari Partai Demokrat, dia akan didukung oleh wakil Partai Demokrat di DPR, nah karena jumlah anggota DPR dari Partai Demokrat juga tidak besar atau tidak mendominasi  maka presiden terpilih kemudian sibuk menggalang koalisi dari banyak partai supaya kekuasaannya aman, langgeng, tidak digoyang. Itulah yang terjadi pada SBY.

Kerugian lainnya adalah tingginya cost pelaksanaan Pemilu, semakin tinggi jumlah partai semakin tinggi costnya.  Berapa lembar kertas suara harus dicetak untuk mencakup seluruh lambang partai dan foto para Caleg ?

Aneh bin ajaib, begitu banyak kerugian dan keanehan dari mekanisme demokrasi di Indonesia, tidak ada satupun pihak yang mempermasalahkan atau minimal mempertanyakan hal itu.  Tidak ada misalnya gagasan untuk membatasi jumlah partai, minimal pembentukan partai baru harusnya tidak diijinkan lagi. Tidak ada usaha usaha untuk menyederhanakan dan mengurangi jumlahnya.  Partai-partai yang sudah terlanjur terbentuk dianjurkan untuk bergabung.

Saya yakin penyederhanaan dan pengurangan jumlah partai dampaknya akan positif.   Para pengurus partai harusnya "dipaksa" untuk berpikir tentang rakyat negeri ini.  Harus dibuat mekanisme jika ada pengurus partai yang hendak mencari keuntungan diri sendiri, maka yang bersangkutan akan terlempar keluar dari partai dan tidak bisa membangun partai baru lagi karena pintunya memang sudah ditutup.

Konon hanya keledai yang jatuh terantuk berkali-kali pada satu lubang yang sama.

Sunday, July 01, 2012

Belajar dari Malaysia

Setiap kali saya pulang dari bepergian ke luar negeri, begitu mendarat kembali di Cengkareng, selalu terasa miris hati saya. Betapa jauh tertinggal Indonesia dibandingkan dengan negara lain.  Tidak perlu kita bicara negara Eropa atau Amerika, bahkan dibandingkan dengan Malaysia atau Thailand saja, kita seolah-olah sudah tertinggal 10 atau 15 tahun.

Baru saja saya berkunjung ke seorang teman yang tinggal dan bekerja di Kuala Lumpur.  Tidak lama, hanya 4 malam saja. Empat hari di Kuala Lumpur saya mencatat banyak hal, tentu tidak lengkap dan belum tentu akurat, karena waktu pengamatan yang sangat singkat dan tempat yang saya kunjungi juga tentu saja hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan Malaysia.

Tapi bagi saya, sudah banyak sekali catatan yang bisa dibuat dan tentu bisa menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia (kalau mau), bagaimana Malaysia membangun negaranya.  Berikut ini beberapa catatan kesan-kesan berdasarkan apa yang saya lihat, saya dengar dan saya baca:
  • Malaysia mempunyai perencanaan pembangunan yang sangat bagus, setidak-tidaknya jika dilihat dari infrastruktur transportasi publik di Kuala Lumpur. Meskipun populasi penduduk Kuala Lumpur mungkin tidak sampai separuh Jakarta, tapi Malaysia sudah membangun infrastruktur transportasi yang sangat baik, yang saya kira akan bisa memenuhi kebutuhan sampai beberapa belas tahun ke depan.  Kombinasi antara LRT, monorail, kereta listrik dan jalan raya yang lebar sungguh membuktikan hal itu. Bandingkan dengan Jakarta, Indonesia, tingkat kemacetan sudah mencapai batas yang tidak wajar.  Bisakah Anda bayangkan seperti apa kemacetan di Jakarta lima atau sepuluh tahun lagi ?  Pemerintah hanya berusaha menambah panjang jalan, padahal hal tersebut tidak akan pernah bisa mengimbangi laju pertambahan jumlah kendaraan pribadi. Seharusnya pemerintah mulai berpikir tentang transportasi massal seperti KRL misalnya.   

  • Malaysia mempunyai kebanggan yang tinggi atas produk dalam negerinya. Ini terlihat dari banyaknya mobil Proton di jalan-jalan. Sejauh saya lihat taksi semuanya menggunakan Proton.  Bandingkan dengan Indonesia, setelah sekian puluh tahun merdeka, sampai saat ini kita belum punya mobil nasional.  Pak Harto dulu hanya sanggup menempelkan logo Timor di mobil Kia buatan Korea, sudah disebutnya mobil nasional.  Setelah berganti pemimpin berkali-kali, tidak satupun presiden kita yang mampu memimpin negeri ini untuk melahirkan sebuah mobil nasional (gambar memperlihatkan iklan mobil Proton di salah satu stasiun LRT di Kuala Lumpur). 

  • Toleransi beragama di Malaysia sangat bagus, setidaknya itu cerita yang saya dengar dari teman yang menetap di Kuala Lumpur. Tidak pernah ada ribut-ribut soal pembangungan gereja misalnya. Pernah ada peristiwa seorang Ustadz berkotbah dan membuat pernyataan yang menjelekkan agama tertentu. Tahukah Anda apa yang terjadi ?  Perdana Menteri Malaysia turun tangan menegur langsung Ustad tersebut.  Pada bulan Ramadhan, warung-warung tidak takut untuk tetap buka dan tidak perlu memasang tirai rapat-rapat menutupi warungnya.  Saya kira saya tidak perlu cerita bagaimana kerukunan beragama di Indonesia, tentu Anda sudah tahu.  Di lain pihak pemerintah Malaysia juga memberi perlindungan kepada warga Muslim, warga Muslin dilarang berkunjung ke Genting Highland, tempat dimana ada judi dan lain-lain hiburan yang diharamkan.  Saya anggap itu kebijakan yang cerdas, Malaysia tetap bisa mendapat banyak devisa dari turis yang berkunjung ke Genting tapi pada saat yang sama memberi perlindungan ke warga muslim supaya tidak terjebak di sana.

  • Toleransi di Malaysia tidak hanya dalam soal agama tapi juga dalam hubungan antara suku dan ras.  Fakta menunjukkan bahwa di Malaysia terbuka peluang yang sama besar bagi seluruh warga negara apapun keturunannya untuk menempati posisi penting di pemerintahan, menteri, direktur perusahaan pemerintah, bahkan sebagai perwira tinggi di militer dan kepolisian.  Harus diakui kita jauh tertinggal dalam hal ini. Bahkan di harian The Sun edisi 13 Juni 2012 ada artikel berjudul Non Malay Prime Minister, orang sudah mulai bicara tentang warga non Melayu dan non Muslim menjadi Perdana Menteri Malaysia.

  • Polisi Malaysia lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan polisi Indonesia.  Anda bisa lihat atau alami sendiri jika mengemudi mobil di jalan-jalan di Jakarta.  Jika Anda dihentikan polisi karena melanggar aturan lalu lintas, saya berani bertaruh polisi akan menawarkan penyelesaian di tempat, uang masuk kantong dan Anda bebas.   Saya sendiri selama beberapa belas tahun mengemudi di Jakarta pernah beberapa kali dihentikan polisi dan tidak pernah satu kalipun menyelesaikan kasus dengan bayar denda di pengadilan.  Teman saya selama hampir setahun tinggal di Kuala Lumpur sudah 4 kali dihentikan polisi dan semuanya diselesaikan lewat jalur resmi membayar denda yang cukup besar 150 RM (Ringgit Malaysia) atau sekitar Rp 450.000.-   Saya yakin jika Polisi Indonesia bisa punya integritas, bersih dan jujur seperti Polisi Malaysia, negara kita akan jauh lebih aman.
bersambung........

Tuesday, June 19, 2012

Ironi Negeri Maling (2)

Konon satu gambar berbicara lebih banyak dibandingkan dengan seribu kata-kata.  Silakan simak gambar-gambar berikut. Suka atau tidak itulah potret bangsa kita.







Jangankan dalam skala kecil di rumah atau RT/RW, dalam skala nasionalpun negara kita dirampok, begitu kata SBY, dan beliau hanya bisa mengeluh saja. Jadi bukan negeri maling dong, tapi negeri perampok.

Monday, June 18, 2012

Soegija, 100% Indonesia

Kita boleh gembira sedikit karena minggu-minggu terakhir ini Bioskop XXI dihiasi dengan film-film Indonesia yang cukup baik dan menarik (bukan sekedar film hantu, pocong dan suster ngesot).

Film Soegija yang menuturkan kisah tentang Mgr Soegijapranata, Uskup Pribumi pertama Indonesia, saya kira cukup bagus, meskipun di sana-sini saya melihat banyak kekurangan. Banyak adegan yang saya kira tidak perlu, secara keseluruhan sosok Soegija sendiri tidak terlalu jelas.

Namun lepas dari banyak kekurangan di film ini, saya kira banyak hal positif juga yang bisa diambil dari film ini dan menjadi bahan refleksi kita.

Bahwa kita manusia Indonesia, dan saudara-saudara kita orang Nasrani (Katolik, Kristen) diundang untuk menyadari bahwa kita harus berjuang pertama-tama bukan untuk agama kita tapi untuk bangsa kita.

Bahwa beriman pada satu agama tertentu (apapun itu), tidak bisa lepas dari konteks ke-Indonesiaan, kemanusiaan, keadilan, kemerdekaan.  Sehingga menjadi omong kosong belaka, jika Soegija yang sudah diangkat menjadi Uskup, lupa pada umat dan rakyatnya. Justru pada posisinya yang tinggi di hirarki gereja, Soegija dipanggil untuk secara berani dan lantang memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan bagi rakyat.

Selain hal di atas, setelah menyaksikan film ini saya disadarkan bahwa kita miskin dengan film bagus yang mengisahkan sejarah negeri ini.  Banyak hal yang tidak dipahami dan sulit dibayangkan oleh kaum muda kita. Seperti apa perjuangan para pemuda dulu, seberapa berat penderitaan mereka.  Juga pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa Jepang tidak mau menyerahkan senjata ke Indonesia. Apakah ada agenda terselubung Belanda (dan sekutu).

Hal-hal ini saya kira perlu dipahami kaum muda Indonesia, kalau kita mau sunggu merdeka dan tidak dibodohi terus oleh negara lain.

Monday, May 28, 2012

Ada apa dibalik penolakan terhadap Lady Gaga

Saya bukan penggemar Lady Gaga, juga tidak pernah melihat dan/atau mendengar seperti apa penampilan dan musiknya.  Tapi saya jadi tertarik dengan Lady Gaga ini setelah ribut-ribut dan heboh seputar penolakan banyak Ormas Islam (terutama FPI) terhadap rencana konser Lady Gaga di Indonesia.

Ada beberapa hal yang menarik dicermati dibalik penolakan banyak pihak terhadap tampilnya Lady Gaga ini:
  1. bahwa sebetulnya penampilan Lady Gaga tidak terlalu mesum (kalau mau dibilang mesum), aneh mungkin ya, tapi tidak seronok, jika dibandingkan dengan Katy Perry misalnya, Katy Perrypun banyak menggunakan pakaian yang terbuka.
  2. bahwa sebetulnya banyak penampilan penyanyi atau penari lokal tidak kalah mesum dibanding Lady Gaga, lihat foto di bawah ini penampilan dua penyanyi dangdut pada kampanye Pilkada di Jawa Tengah.
  3. bahwa jauh-jauh hari, penyelenggara konser tentu sudah mengantongi izin dari Kepolisian, tidak mungkin mereka berani menjual tiket jika belum ada lampu hijau dari polisi, aneh bin ajaib bahwa ijin yang sudah didapat tiba-tiba dibatalkan karena desakan dari pihak-pihak tertentu.
Dari diskusi dengan beberapa teman yang aktif dalam gerakan-gerakan pro-demokrasi dan keadilan, saya mendapat info adanya dugaan bahwa sebetulnya penolakan dari banyak Ormas Islam terhadap Lady Gaga ini tidak bersifat murni dengan latar belakang keagamaan tapi lebih karena adanya agenda terselubung dari pihak-pihak tertentu. 

Beberapa teman mengatakan bahwa isu Lady Gaga ini sengaja dibesar-besarkan dan diangkat ke atas dengan tujuan untuk meredam isu lain yang saat ini sedang hangat menjadi sorotan dan pembicaraan masyarakat.  Berita tentang Lady Gaga sengaja diangkat agar perhatian masyarakat terserap ke sana dan melupakan isu lain yang sebetulnya jauh lebih krusial dan lebih merusak negeri ini.

Isu apakah itu ?

Korupsi dan penyelewengan anggaran yang dilakukan oleh Nazarudin, Angelina Sondakh dan banyak petinggi Partai Demokrat lainnya pada pengadaan Wisma Atlet di Palembang.

Percaya atau tidak ? Wallahualam, silakan Anda lakukan penilaian sendiri.


Penyanyi lokal tidak kalah cabul dibandingkan dengan Lady Gaga
  

Friday, April 20, 2012

SBY vs Cristina Fernandez

Siapa itu Cristina Fernandez ?  kenapa dibandingkan dengan SBY ?

Saya kira banyak dari pembaca yang belum tahu siapa itu Cristina Fernandez. Dia adalah presiden Argentina.  Lalu kenapa dibandingkan dengan SBY ?

Saya kagum dengan Fernandez karena dia punya visi untuk negaranya dan dia berani berjuang mencapai visi tersebut. Demikian kata-katanya (Kompas, Rabu, 18 April 2012):
"Kami adalah satu-satunya negara di Amerika Latin yang tidak punya hak sama sekali atas kekayaan alam kami".  Fernandez dengan beraninya mengambil alih 51% saham perusahaan minyak terbesar, Yacimientos Petroliferos Fiscales, yang sejak krisis moneter tahun 1990an telah diswastakan dan kepemilikannya beralih ke Repsol, raksasa korporasi minyak Spanyol.

Spanyol tentu tidak diam saja. Menlu Spanyol, Jose Manuel Garcoa Magallo, mengatakan Spanyol akan mengambil langkah hukum dan menuntuk kompensasi 10,5 Milyar Dollar AS.

Fernandez tidak takut, dia berkata: "Saya ini kepala negara, bukan pedagang sayur. Semua perusahaan yang ada di Argentina, walau pemegang sahamnya pihak asing, adalah perusahaan Argentina"

Tentu kita tidak bisa berharap SBY akan bertindak senekat Fernandez itu.   Tapi minimal kita boleh berharap memiliki pemimpin yang punya visi tentang negaranya.  Visi tentang bagaiman membangun negeri dan meningkatkan kemakmuran rakyat, bagaimana bisa menjadi tuan di negeri sendiri. 

Sejauh ini SBY belum sampai di taraf itu. Beliau masih sibuk menggalang koalisi dengan partai pendukung, dan saat ini masih menimbang-nimbang hendak bertindak apa terhadap PKS yang meskipun tergabung dalam koalisi tapi tidak mendukung kebijakan kenaikan harga BBM.  Di sela-sela waktu luang beliau, Bapak SBY memanfaatkan waktu untuk menciptakan lagu dan bermain gitar, karena sudah penat beliau mengelola negeri ini.

Monday, January 02, 2012

Selamat Tahun Baru 2012

Selamat hari Natal bagi Anda semua yg beragama Nasrani, dan selamat Tahun Baru 2012 bagi Anda semua yg berkenan mengunjungi blog sederhana ini.

Semoga Allah mengasihani bangsa yg bodoh dan bebal ini, korup dan intoleran. Semoga kita diampuni, semoga kita dicerahkan (terutama para pemimpin negeri ini).  Semoga tahun 2012 membawa secercah harapan baru dan semangat baru, ke arah hidup yg lebih baik, lebih manusiawi, bersih, sejahtera dan aman sentosa.

Tahun 2011 telah lewat dengan banyak catatan hitam, terutama pelanggaran atas kehidupan dan kemanusiaan. Dan ironisnya kejahatan itu dilakukan sendiri oleh anak-anak bangsa ini, bukan oleh negara lain seperti pada jaman kolonialisme dulu.

Tapi saya percaya bahwa masih ada Anda yg peduli dengan negeri ini, masih ada saya yg hanya bisa membuat blog kecil dan sederhana. Tak bisa berbuat banyak, selain menuangkan keprihatinan, gagasan dan cita-cita dalam tulisan-tulisan kecil di blog ini.

Saya percaya bahwa Allah masih mencintai negeri ini. Allah masih bekerja meskipunya "hanya" lewat tangan kita yang tak punya daya ini.  Masih ada dan selalu ada harapan, untuk Indonesia yang maju, berdaulat, adil dan makmur.

Tuesday, December 13, 2011

Ironi Negeri Maling

Judul posting ini mungkin terdengar sinis, tapi kalau kita mau jujur, mungkin kita akan setuju dengan pendapat tersebut.

Coba sama-sama kita lihat dan amati:
  1. Di banyak supermarket misalnya Giant atau Gelael, jika kita perhatikan di rak: beberapa jenis vitamin atau obat tertentu (misalnya Calcium Redoxon) hanya disediakan kardus kosong. Jika kita ingin membeli obat tersebut, bisa mengambil isinya langsung di kasir.  Ini indikasi bahwa banyak pengutil di supermarket yang sering mengambil obat jenis tersebut.
  2. Di jalan tol Cipularang, beberapa bagian jalan diberi penerangan menggunakan tenaga matahari. Disediakan juga baterai untuk menyimpan listrik agar energi tetap bisa disimpan untuk keperluan pada malam hari.  Yang lucu, tiang beton di mana perangkat itu dipasang diberi lilitan kawat berduri dan besi pelindung.  Ini indikasi bahwa perangkat solar cell dan baterai itu rawan pencurian.
  3. Indonesia mungkin satu-satunya negara di dunia, dimana orang menggergaji dan merubuhkan menara listrik yg digunakan untuk transmisi tegangan tinggi.
  4. Bisa jadi juga negara satu-satunya di dunia, dimana orang mengambil baut-baut raksasa yang digunakan untuk mengikat besi pada jembatan (misalnya jembatan Suramadu).
  5. Jika Anda biasa berkendara di Jakarta, sudah tidak asing bagi kita melihat pengendara mobil atau motor  masih berjalan terus meskipun lampu lalu lintas merah sudah menyala.  Ini indikasi bahwa banyak pengendara mengambil hak orang lain untuk menggunakan jalan (alias mencuri).
  6. Tak terbilang sudah tingginya korupsi di negeri ini, mulai dari pejabat pemerintah daerah, anggota DPR, gubernur, tentara, polisi sampai jaksa dan hakim.  Sekali lagi indikasi pencurian yang ini malah dalam skala massal karena biasanya jarang orang korupsi hanya beberapa belas atau puluh juta saja. Biasanya nilainya sampai ratusan juta atau malah puluhan Miliar. Dan ini sudah dikukuhkan dengan predikat Indonesia sebagai negara paling korup di dunia.
  7. Coba Anda bandingkan berapa biaya naik haji di Indonesia dengan di Malaysia atau Singapura misalnya.  Mana yang lebih besar dan seberapa besar selisihnya ?  Kenapa bisa terjadi seperti itu ?  Jangan-jangan biaya naik Haji "diberi pajak" oleh Departemen Agama. Menurut saya sih, ini sama saja dengan mencuri ? karena menaikkan biaya untuk kepentingan diri sendiri, apalagi penggunaan dana yg didapat, dilakukan tidak transparan
  8. Kebetulan sekali beberapa hari lalu di Matraman saya melihat ada sebuah pikup membawa galon-galon air Aqua dan tabung gas 3 kg.  Uniknya bagian bak dari pikup tersebut ditutup rapat dengan kerangkeng atau teralis besi, diberi kunci gembok.  Baru kali ini saya melihat yg serupa itu, biasanya jika diberi besi sekalipun, hanya untuk penguat pagar saja, kalau ini sungguh-sungguh untuk melindungi galon Aqua dari pencurian.
Seingat saya masih banyak lagi bukti-bukti bahwa kita tinggal di negeri para maling, hanya saja saat mau menuliskan saya lupa. Jika pembaca ada masukan, silakan disampaikan, nanti akan saya tambahkan ke daftar di atas.

Tuesday, November 29, 2011

Kenapa harus pakai BlackBerry ?

Kenapa harus pakai BlackBerry ? Pertanyaan sederhana, tapi saya kira pas diajukan ke orang Indonesia yg dikenal konsumtif.  Apakah memang kita membutuhkan BlackBerry, atau sekedar ingin gaya, gak mau ketinggalan jaman, atau sekedar ikut-ikutan ?  Sebandingkah biaya yg harus kita keluarkan dengan gaya yg kita ikuti ?  Tidakkah ada kepentingan lain yg lebih mendesak dan perlu dipenuhi ?

Gambar di atas (diambil dari Harian Kompas) memperlihatkan suasana ketika ribuan orang saling berdesak-desakan berebut 1.000 pesawat Blackberry yg dijual di Pacific Place Jakarta, dengan harga diskon 50%.  Ribuan orang berdesakan, banyak yg pingsan, ada yg terinjak-injak, ada yg patah tulang.....

Saya tidak ingin mencap negatif orang-orang yg berdesak-desakan tersebut.   Tapi saya prihatin, begitu bodohkan bangsa kita ini, sehingga hanya demi gaya dan gengsi kita rela berdesak-desakan, mengorbankan atau mempertaruhkan keselamatan.

Saya tidak anti BlackBerry, saya pun pengguna BB, tapi yg saya gunakan adalah fasilitas kantor, karena untuk kemudahan komunikasi, managemen memutuskan BB sebagai media yg cukup efektif. Tapi hanya sebatas itu saja. Seandainya saya dipecat atau pensiun dini, BB akan saya kembalikan dan saya tidak ada tertarik untuk membeli dengan uang dari kantong sendiri.  Betapapun selama satu atau dua tahun saya sdh menikmati berbagai fitur yg tersedia di BB.

Bagi saya, menggunakan produk lokal seperti Flexi sudah cukup. Jika memang dibutuhkan komunikasi dalam kelompok tertutup, ada fasilitas Fleximilis, tentu tampilan dan kenyamanan berbeda jauh dibanding BlackBerry, tapi bagi saya itu sdh cukup.  Apalagi sekarang sdh ada pesawat CDMA berbasis Android dengan harga lumayan murah Rp 1,5 Juta saja.

Jika saya punya uang lebih, tidak ada sedikitpun saya tertarik untuk belanjakan pesawat BlackBerry, lebih tertarik saya gunakan untuk membeli buku-buku yg bisa memperluas pengetahuan dan memperkaya wawasan saya.

Friday, November 18, 2011

Logika berpikir SBY

Sebagai warga negara Indonesia, boleh dong kita berharap mempunyai pemimpin yang cerdas, berani, jujur, punya visi jauh ke depan, sederhana, bersih dst dst. Dan juga tentu pemimpin yg punya alur berpikir yg runtut dan jelas, sistematis dan masuk akal.

Apa mau dikata, mungkin harapan saya terlalu tinggi. Headline Harian Kompas, Kamis, 20 Oktober 2011, judulnya pernyataan: SBY: Uang Negara Dirampok.














Logiskah pernyataan SBY itu ?

Jujur saja, tidak perlu menjadi orang cerdas untuk bisa memahami bhw itu pernyataan yang tdk masuk akal. Sebagai presiden, tentu SBY punya otoritas penuh untuk menugaskan Kapolri, Ketua KPK, Jaksa Agung, bahkan bila perlu Angkatan Bersenjata untuk menangkap pelaku perampok uang negara dan menyeretnya ke pengadilan. Tapi bukan itu yg dilakukan presiden, melainkan membuat pernyataan di depan publik: uang negara dirampok !

Timun bertanya (Kompas Minggu, 23 Oktober 2011) : "Kenapa sih pak ? Bapak kenal rampoknya, Bapak rikuh, sungkan ? atau Bapak takut ?"

Saturday, October 08, 2011

SBY vs Obama

Boleh gak atau fair gak kalau kita membandingkan SBY dengan Obama ?
Kenapa tidak ? Keduanya kan sama-sama presiden, cuma bedanya yg satu negara adidaya yg satu lagi dari negara terbelakang.

Silakan Anda perhatikan dua cuplikan berita dari Harian Kompas yg sy tampilkan di sini. Anda bisa simpulkan sendiri, mana dari kedua presiden ini yg lebih berpihak pada kaum miskin dan berkekurangan, mana yg lebih peduli pada rakyatnya.

Catatan: pernyataan Sri Mulyani disampaikan pada saat ybs masih menjabat Menteri Keuangan dibawah Presiden SBY.

Silakan cermati dan buat penilaian Anda. Obama dengan berani mengambil risiko mengusulkan kebijakan tidak populer hendak mengenakan pajak lebih tinggi pada orang kaya, sekaligus membuktikan bahwa dirinya bersih dan tidak berkolusi dengan warga kaya Amerika. Bandingkan dengan pemerintahan SBY yg bukan saja tidak tegas dan tidak melakukan tindakan apapun untuk memberantas mafia pajak dengan korupsinya yg tak terhitung, tapi masih pula berdalih sulitnya menarik pajak dari orang kaya.








Wednesday, September 14, 2011

Sukacita kelahiran bayi Harimau Sumatra




(gambar dari Harian Kompas, 13 September 2011)

Bagi saya, peristiwa kelahiran selalu merupakan momen yg membahagiakan, sekalipun bukan sanak saudara kita, bahkan "hanya" seekor harimau.

Di tengah berbagai berita yg menyedihkan terkait harimau Sumatra, yg konon sudah hampir punah. Berita kelahiran tiga ekor bayi Harimau Sumatra di Kebon Binatang Medan sungguh membawa kegembiraan bagi saya.

Peristiwa kelahiran membawa semangat baru, bahwa meskipun kita tidak bisa berharap banyak pada pemerintah, tapi masih ada orang-orang yg peduli di luar sana. Semangat baru dan harapan baru, semoga terketuk pintu hati kita untuk mensyukuri anugerah Allah yg begitu indah dan berharga.

Semoga anak cucu kita kelak, masih bisa melihat dan mendengar auman harimau ini, bukan hanya dari cerita dan film.

Thursday, September 08, 2011

Logika berpikir Gumilar




















(foto dari Harian Koran Tempo, edisi 4 September 2011)

Apa jadinya kalau seorang Rektor dari Universitas terkemuka di negeri ini bersama dengan seorang Dirjen Pendidikan Tinggi tidak punya logika berpikir yg runtut dan jelas, tidak bisa menangkap apa yg menjadi aspirasi publik, tidak bisa memahami apa yg dimaksud pihak lain dan kemudian menyampaikan argumentasi yg tdk masuk akal ?

Itulah yg terjadi dengan Gumilar Rusliwa Somantri bersama dengan Djoko Santoso.

Masih terkait kasus pemberian gelar Doctor Honoris Causa ke Raja Arab Saudi. Berita di Harian Koran Tempo tanggal 4 September 2011 melaporkan bahwa pemerintah telah melakukan pengecekan atas pemberian gelar Doctor HC ke Arab Saudi dan menyimpulkan bahwa gelar tersebut tidak mungkin dicabut kembali karena sudah sesuai dengan prosedur yg benar.

Beberapa hal yg perlu dicermati:
1. Bahwa yg menjadi keberatan banyak pihak adalah pemberian gelar ini telah mengingkari rasa keadilan dan kemanusiaan masyarakat, karena begitu buruknya perlakuan yg diterima oleh tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi bahkan secara resmi telah menolak tuntutan pemerintah Indonesia agar memberi perlindungan hukum yang pantas kepada para tenaga kerja dari Indonesia.
2. Bahwa tidak pernah sekalipun ada tuntutan kepada Rektor Universitas Indonesia untuk mencabut kembali gelar Doctor HC yg telah diberikan kepada Raja Arab Saudi tersebut. Tidak perlu pintar untuk memahami bahwa hal tersebut mustahil, tentu akan berdampak sangat buruk pada hubungan antar kedua negara.
3. Bahwa yg dituntut dari Rektor Universitas Indonesia adalah permintaan maaf, bahwa tindakannya memberikan gelar tersebut telah menyakitkan hati ribuan tenaga kerja Indonesia yg diperlakukan semena-mena di Arab Saudi (dan dibiarkan saja oleh Pemerintah Indonesia).

Berikut ini logika bengkok dari Gumilar dan Djoko:
1. Klaim Djoko bahwa pemberian gelar ini sdh sesuai dengan prosedur yg berlaku perlu dicek kebenarannya. Coba bandingkan dengan pendapat Prof. Emil Salim (Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) pada artikelnya di Harian Kompas.
2. Seandainya prosedur pemberian itu salah, adalah tidak mungkin mencabut kembali gelar tersebut dari Raja Arab Saudi (yg sudah diantarkan langsung ke Arab Saudi). Apakah pemerintah Indonesia akan melakukan hal tersebut ?
3. Seandainyapun prosedur sdh dianggap benar, maka prosedur itu harus direvisi karena menghasilkan keputusan yg tdk tepat dalam arti mengingkari rasa keadilan dan kemanusiaan masyarakat.
4. Klaim Gumilar bahwa penetapan pemberian gelar sdh diputuskan sebelum dijatuhkannya hukuman mati kepada Ruyati merupakan pernyataan menggelikan. Kasus penindasan hak asasi manusia atas tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi bukan hanya terkait Ruyati saja, masih ada ratusan atau ribuan kasus lainnya. Sehingga ini menjadi argumen yg tidak masuk akal.
5. Seandainya benar klaim Gumilar bhw penetapan sudah dilakukan sebelum hukuman mati kepada Ruyati, maka pertanyaannya kenapa keputusan itu tidak dibatalkan ? perlu dicatat bahwa keputusan hukuman mati Ruyati adalah Mei 2011 dan dieksekusi Juni 2011. Sedangkan penyerahan gelar dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri 1432H.

Sampai dengan detik ini saya masih belum bisa memahami logika berpikir Gumilar. Seorang teman bertanya kepada saya melalui pesan singkat sms, apa sih sebetulnya keuntungan atau tujuan Universitas Indonesia memberikan gelar tersebut kepada Raja Arab Saudi ? Satu pertanyaan yg hanya bisa dijawab sendiri oleh Gumilar.