Wednesday, August 12, 2015

Pemerintah Tanpa Visi (Lagi) soal Otomotif Indonesia

Berbicara soal otomotif di Indonesia, lagi-lagi menyadarkan dan mengingatkan kita bahwa para pemimpin kita tidak punya visi jangka panjang yang terarah dan jelas. 

Masih soal mobil yang pernah saya bahas juga sebelumnya dengan judul Tambah Mobil untuk Jakarta dan Mobil Murah: Kebijakan Aneh dar Pemerintah yang Tak Punya Visi.  

Hari Senin, 10 Agustus 2015 yang lalu diselenggarakan Roundtable Discussion dengan thema : "Menuju Pameran Otomotif Berkelas Dunia", bertempat di Auditorium Gedung Sindo.   Dari membaca thema diskusinya saja sudah bisa disimpulkan bahwa pemerintah kita lagi-lagi tidak cerdas. 

Saya orang yg berpikir sederhana saja, kegiatan yg kita lakukan haruslah yg bisa memberi dampak positif bagi bangsa ini, bisa memakmurkan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.  

Nah, sekarang pertanyaannya apa keuntungannya Pameran otomotif berkelas dunia bagi rakyat Indonesia.   Bagi saya rakyat kecil yg berpikir sederhana ini, kita hanya dijadikan sebagai pasar bagi perusahaan-perusahaan otomotif dunia, sebagai pembeli, sebagai pengguna. Sementara kita sendiri hingga saat ini tidak mampu memproduksi sendiri mobil nasional (bandingkan dengan Malaysia yg punya Proton). 

Semakin banyak mobil diproduksi dan dibeli rakyat Indonesia, semakin tinggi pendapatan perusahaan mobil (asing), semakin banyak mobil di Indonesia, konsumsi BBM semakin tinggi, subsidi BBM semakin tinggi, polusi semakin tinggi dan rakyat tidak menjadi lebih sejahtera, industri otomotif lokal tetap tidak berkembang.     

Jika pemerintah cerdas dan punya visi, Saleh Husein tidak bicara tentang pameran mobil kelas dunia, tapi bicara tentang bagaimana roadmap pengembangan mobil nasional, bagaimana kita bangga dengan brand mobil kita sendiri dan bagaimana caranya mobil tersebut bisa diekspor ke negara-negara lain dan memberi devisa bagi negara ini. Sayang sekali itu semua masih sebatas mimpi. 

Sunday, July 19, 2015

Akun Twitter Peduli Indonesia


Anda semua yg berkenan mengunjungi blog sederhana ini, diundang juga untuk follow akun Twitter Peduli Indonesia dengan alamat @HermantoIriawan.

Akun ini sebetulnya sudah dibuat sejak Juni 2012 namun karena berbagai kondisi & pertimbangan, baru bisa (dan akan) dioptimalkan saat ini. Mudah-mudahan bisa menjadi media komunikasi yang efektif bagi kita semua yang peduli dengan negara ini.

"Tinggal di Negeri Ini, Menakutkan"

Dalam sebuah wawancara imaginer, saya membayangkan dialog berikut:

orang 1: "Semakin lama semakin menakutkan tinggal di Indonesia ini...."
orang 2: "Memangnya kenapa ?"

orang 1: "Semakin hari, semakin saya lihat ketidakpastian hukum di negara ini. Bayangkan seorang nenek janda tua, dihukum karena dituduh mencuri kayu, maling sandal dipukuli dan dibui sementara koruptor Milyaran Rupiah bebas.  Napi narkoba masih bisa mengendalikan bisnis haramnya dari penjara, dan mungkin masih ada ribuan contoh lain yg memperlihatkan hukum mandul di republik ini" 
orang 2: "Lanjutkan Bung"

orang 1: "Hakim Sarpin menggunakan logika yg tak masuk akal dalam mengabulkan gugatan praperadilan Budi Gunawan (calon Kapolri waktu itu).  Kemudian dua orang pimpinan Komisi Yudisial yg menyampaikan kritik atas hal itu dijadikan tersangka, apakah tidak gila itu...."
orang 2: "Betul, saya setuju..."


orang 1: "Masih banyak contoh lain, silakan saja Anda baca koran, sembarang koran dari sembarang waktu, dengan mudah Anda akan menemukan"
orang 2: "Betul, setuju saya, bagaimana kita bisa merasa aman kalau tidak ada kepastian hukum, sewaktu-waktu kita bisa ditangkap polisi dan ditetapkan sebagai tersangka...."

orang 1: "Terkait kasus Sarpin dan praperadilan Budi Gunawan, masih banyak korban lain, silakan lihat gambar dari Twitter berikut ini"

orang 2 : "Ada apa sebetulnya, dahsyat sekali pembelaan terhadap Budi Gunawan ini, padahal terbukti kemudian Komisi Yudisial menetapkan Hakim Sarpin bersalah"

orang 1: "Dalam kondisi seperti ini, bagaimana negara kita mau maju, bagaimana kita mau memerangi korupsi, korupsi yg membuat kita menjadi miskin dan bodoh....."

 

Friday, July 17, 2015

Selamat Idul Fitri 1436H, Mohon Maaf Lahir & Batin

Selamat Idul Fitri 1436, Mohon Maaf Lahir & Batin bagi Anda yg berkenan mengunjungi blog kecil ini.

Mudah-mudahan Idul Fitri ini bisa menjadi momen untuk berdamai bagi kita semua, di antara umat Islam & di antara umat berbagai agama di Indonesia. Bagi pemerintah semoga bisa menjadi momen untuk menyadari (kembali) bahwa masih banyak pekerjaan rumah yg belum selesai, termasuk di antaranya kegagalan menyediakan transportasi yg nyaman bagi para pemudik dan lebih utama lagi kegagalan dalam melakukan pemerataan pembangunan hingga ke desa-desa, sebab jutaan orang yg mudik sebetulnya adalah potret tidak adanya pekerjaan di daerah, sehingga penduduk terpaksa mencari nafkah ke kota besar.


(foto dari Harian Kompas, 16 Juli 2015, para pemudik bermotor yg menunggu giliran masuk kapal penyeberangan di Pelabuhan Merak, Banten).

Semoga Idul Fitri ini juga menjadi momen untuk mengingatkan kita kembali untuk selalu bersyukur, sabar dan tetap mengendalikan diri terutama menghadapi situasi di Indonesia yg serba tak menentu, pemerintah yang tak peduli, aparat keamanan yg korup, anggota dewan yg tamak dan tak tahu malu, justru dalam kondisi serba buruk seperti itu kita diundang untuk tetap sabar dan kritis serta mengedepankan akal sehat dan logika dalam melakukan perlawanan.

Selamat Idul Fitri 1436H, Mohon Maaf Lahir & Batin.

Friday, July 10, 2015

Bahasa menunjukkan Bangsa

Tepat sekali peribahasa di atas: "Bahasa menunjukkan Bangsa".  Tabiat seseorang akan terlihat dari tutur katanya.  Tutur kata yang kasar menunjukkan bahwa si pengucap atau penutur tersebut kasar wataknya.   Bahasa yang kacau logika atau strukturnya menunjukkan bahwa si pengucap adalah seorang yg malas, malas untuk berpikir kritis dan malas untuk belajar berbahasa secara baik dan benar.

Saya merasakan dalam hidup sehari-hari bahwa penggunaan atau pengucapan bahasa Indonesia kita semakin lama semakin kacau, terutama dalam bahasa tertulis, baik itu berita di media cetak atau sekedar pengumuman yg ditempel di dinding rumah.  Apa yang saya maksud masih sebatas pada hal-hal yang mendasar seperti penggunaan awalan dan akhiran, penulisan kata depan, penggunaan tanda baca dan sebagainya, sy tidak berbicara aspek yang lebih canggih (yang biasa dibahas di kolom bahasa di banyak majalah).

Penggunaan bahasa yang kacau menunjukkan -sekali lagi- kemalasan untuk berpikir dan belajar berbahasa secara baik, juga kemalasan untuk berpikir kritis dan logis, sebab bahasa yang kacau secara langsung akan memperlihatkan kekacauan berpikir karena tidak mau atau tidak mampu mengikuti kaidah-kaidah yg benar dalam berbahas.

Untuk jelasnya saya akan berikan beberapa contoh sederhana yang saya ambil dari beberapa sumber, sebagian dari web dan sebagian lainnya saya potret dari papan pengumuman, brosur dan sebagainya.

contoh pertama saya ambil dari sebuah pengumuman di kamar mandi sebuah hotel, tertulis sbb: "Di Mohon Pembalut Tidak Di Buang ke Dalam Toilet Bowl Mengakibatkan Mampet Terima Kasih"

Ini contoh yg sangat sederhana, perhatikan ada dua sukkiu kata "di" yang dalam hal ini berfungsi sebagai awalan, sehingga penulisannya harus disambung, sedangkan suku kata "ke" adalah kata depan sehingga ditulis terpisah, dengan demikian kalimat seharusnya adalah "Dimohon pembalut tidak dibuang ke dalam toilet bowl, mengakibatkan macet, terima kasih"

Atau lebih baik lagi ditulis demikian:" Dimohon untuk tidak membuang pembalut ke dalam toilet bowl, mengakibatkan mampet, terima kasih": .

 Contoh kedua saya ambil dari sebuah website, tertulis Video, Pelukan Singa Betina Kepada Majikannya"

Sungguh saya tidak mengerti kenapa penulis menggunakan kata "kepada", tentu akan jauh lebih enak didengar (dan benar dari sudut tata bahasa) jika digunakan kata "dengan" sehingga kalimatnya menjadi 'Video Pelukan Singa dengan Majikannya"



Apakah Anda bisa menemukan bagian kalimat mana yg janggal ?   ".....beliau menjawab: "bila ia mengira kalau dirinya itu orang yang baik akhlaknya"

Kata "bila" dan "kalau" digunakan dalam kondisi pengandaian atau berandai-andai, dalam kalimat di atas keadaan pengandaian tersebut sudah ditegaskan dengan kata "bila" yang pertama, bagian berikutnya berfungsi menegaskan kondisi yang diandaikan tersebut, sehingga tidak tepat menggunakan kata "kalau", lebih tepat digunakan kata "bahwa" sehingga kalimatnya menjadi "beliau menjawab: "bila ia mengira bahwa dirinya itu orang yang baik akhlaknya""

Dapatkah Anda merasakan perbedaannya ?

Kesalahan berikut yang sering terjadi adalah penggunaan kata yang tidak perlu atau berlebihan. Berikut ini contohnya:

Bahaya adalah kata sifat, sedangkan kata kebakaran menerangkan terjadinya suatu peristiwa, dalam hal ini kata "bahaya" tidak diperlukan sebab kata "kebakaran" saja sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi, lagi pula kita semua sudah tahu bahwa peristiwa kebakaran adalah sesuatu yang berbahaya toh ?   Dengan demikian kalimat yang lebih tepat adalah" "Jangan menggunakan lift jika terjadi kebakaran, gunakan tangga darurat"



Contoh berikut ini sama parahnya dg yg terdahulu, lepas dari siapapun yg mengucapkan kalimat tersebut, jelas kalimat yang salah menurut tatabahasa Indonesia. Loyalitas adalah kata benda tapi dalam kalimat ini difungsikan sebagai kata kerja membuat struktur kalimatnya menjadi rusak, penggunaan dua kata kepada juga tidak tepat.  Kalimat yg benar adalah "Tidak ada gunanya kita loyal pada partai kalau kita tidak berguna bagi rakyat".

Thursday, July 02, 2015

Benahi Alutsista dengan Apa Pak ?


Jatuhnya pesawat Hercules TNI AU di Medan pada hari Selasa, 30 Juni 2015 lalu tentu menyedihkan kita semua. Prihatin bahwa TNI AU masih mengoperasikan pesawat yang usianya sudah lebih dari 50 tahun.

Harian Kompas edisi Kamis, 2 Juli 2015 muncul dengan berita utama: presiden menginstruksikan pembenahan alutsista (alat utama sistem senjata TNI.  Siapapun yang bisa berpikir jernih dan waras tentu sependapat dengan pernyataan atau instruksi presiden ini. TNI harus melakukan pembenahan, peremajaan dan pemutakhiran persenjataannya.  Siapapun, bahkan anak SMP sekalipun saya kira berpendapat sama.

Menurut saya, masalah utamanya bukan di situ.    Jatuhnya Hercules ini hanyalah salah satu puncak gunung es yang tampak di atas muka laut (masalah yg lebih besar tidak tampak karena tersembunyi di bawah permukaan).   Sekali lagi siapapun yang bisa berpikir jernih (dan waras) tahu bahwa peremajaan harus dilakukan. Masalahnya dengan apa peremajaan itu akan dilakukan ?   Tentu membutuhkan anggaran yang sangat besar untuk melakukan peremajaan atas persenjataan TNI.

Pertanyaan lanjutannya adalah apakah kita punya dana cukup untuk melakukan peremajaan senjata tersebut.  Dana cukup hanya bisa kita miliki jika ekonomi kita kuat.  Ekonomi yang kuat hanya bisa dicapai jika:
- perekonomian dikelola oleh team yg kompeten, cerdas, bersih dan jujur
- tidak ada korupsi
- iklim usaha yang kondusif
- ada kepastian hukum
dan sederet persyaratan lain yang dibutuhkan untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, yang bukan berbasis korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sekarang silakan Bapak Presiden melakukan introspeksi diri, apakah persyaratan-persyaratan yg disebutkan di atas sudah dipenuhi ?   sudahkah presiden memilih menteri dan team yang sungguh-sungguh berkompeten, cerdas, bersih dan jujur (dan bukannya dikendalikan oleh kepentingan partai yang mendesakkan kader-kadernya diangkat jadi menteri).   Berikutnya adalah seperti apa komitmen presiden dalam memberantas korupsi, korupsi yang menggerogoti keuangan negara kita, membuat rakyat semakin miskin dan semakin bodoh.  

Silakan Bapak Presiden menilai sendiri bagaimana pemerintah (presiden dan para menteri) telah bersikap terhadap KPK selama ini.  

Silakan ambil cermin besar dan berkacalah.....   Kemudian jawablah pertanyaan itu, pembenahan alutsista harus dilakukan dengan apa ?
 


Wednesday, April 15, 2015

Logika Bengkok Seorang Dirjen



Freddy Budiman, seorang terpidana mati yg di Lapas Nusa Kambangan malah hidup nyaman seperti di hotel dengan berbagai fasilitas seperti TV dan handphone, bahkan masih bisa mengendalikan bisnis narkobanya dari penjara.

Kasus ini jelas mengusik rasa keadilan kita. Pemerintah (jika masih bisa berpikir jernih dan logis) seharusnya tidak hanya malu tapi juga menganggap ini masalah serius yg harus disikapi dengan tegas.













Yang aneh adalah pernyataan dari  Dirjen Pemasyarakatan Kemenkum & HAM, Handoyo Sudrajat (dikutip dari Harian Indopos, Rabu 15 April 2015).  Sudrajat menyatakan bahwa kasus tersebut merupakan "dampak dari tidak seimbangnya jumlah tahanan dan sipir.  sesuai data Ditjen Pemasyarakatan, jumlah sipir di Indonesia saat ini ada sekitar 14 ribu orang. Jumlah itu lebih kecil 10 kali lipat jika dibandingkan dengan tahanan yg mencapai 165 ribu orang"

Siapapun Anda yg waras dan bisa berpikir, silakan menilai sendiri seperti apa kualitas seorang Dirjen Pemasyarakatan tersebut. Bukannya malu dan bertekad keras untuk melakukan perbaikan, malahan menyalahkan kondisi perbandingan jumlah sipir dengan tahanan, sesuatu yg sama sekali tidak relevan.

Seorang narapidana bisa mendapatkan fasilitas luar biasa tersebut, tentu disebabkan karena adanya kolusi dengan sipir atau kepala penjara, dan bukan karena perbandingan tidak seimbang antara jumlah sipir dan jumlah tahanan.

Aneh bin ajaib di negeri mimpi.

Sunday, April 12, 2015

Mengapa (bergabung dengan) ISIS ?













Bahwa ISIS adalah organisasi teror itu saya kira sudah jelas. Tapi apa sebetulnya ISIS, atau bagaimana terbentuknya lalu kenapa ada begitu banyak orang dari seluruh dunia tertarik bergabung dengan ISIS adalah pertanyaan-pertanyaan yg perlu kita cari jawabnya.

Siapapun Anda saya kira layak berpikir kritis tentang isue ini.  Karena ISIS bukan hanya masalah di Siria dan Irak, tapi sudah menjadi masalah bagi seluruh dunia termasuk tentunya Indonesia.

Buku "ISIS, Organisasi Teroris Paling Mengerikan Abad Ini" tulisan Muhammad Haidar Assad, dari Penerbit Zahira, 2014 secara cukup lengkap menggambarkan apa itu ISIS, bagaimana proses terbentuknya dan sepak terjangnya.  

Membaca buku ini ada satu fakta menarik yg bisa sy simpulkan, bahwa proses kelahiran ISIS tidak bisa dilepaskan dari petualangan Amerika Serikat di Timur Tengah. Tapi yang terutama bukan itu, kelahiran ISIS harus diakui bisa muncul antara lain karena pertentangan atau permusuhan antara kelompok Sunni dengan Syiah.  Karena masing-masing kelompok merasa dirinya benar dan kemudian dibuat semakin rumit dengan kepentingan-kepentingan politik masing-masing pihak.

Bagi kita di Indonesia seharusnya ini bisa menjadi pelajaran yg sangat berharga, bahwa seharusnya sesama umat muslim jangan saling bertentangan satu sama lain, karena masing-masing pihak merasa dirinya benar.  Bahkan mengkafirkan pihak non muslim saja tidak layak dilakukan, apalagi sesama umat muslim seharusnya bersaudara dan bekerja sama.

Meski demikian saya punya kritik juga atas buku ini. Di bagian pengantar dituliskan demikian:
- Siapakah anak-anak wayang itu ? Muslimin
- Siapakah dalangnya ? Non Muslim
- Siapakah asisten-asisten dalang itu ? Pemimpin Muslim yang berteman dengan kaum Zionis.

Mengatakan bahwa dalangnya adalah Non Muslim saya kira kurang tepat.  Karena secara global, dunia ini sebetulnya dikendalikan oleh korporasi-korporasi besar dimana di dalamnya ada kaum Muslim juga, Selain itu menyebutkan Non Muslim sebagai dalang berpotensi membuat masalah ini menjadi pertentangan antara Muslim dengan Non Muslim.  Saya kira lebih tepat kalau dikatakan dalangnya adalah Barat (atau Kapitalis Barat) dimana didalamnya ada beragam kelompok orang termasuk Non Muslim, Yahudi dan Muslim sendiri.

Kembali pada konteks kita di Indonesia, siapapun Anda harusnya berpikir kritis atas masalah ini. Terutama tentu pemerintah dan para pemuka agama harus berupaya untuk membuka mata masyarakat akan apa itu ISIS dan betapa sesatnya kelompok ini.

Dan satu catatan penting bahwa kita tidak perlu mempertentangkan adanya kelompok-kelompok aliran dalam Islam, apalagi mengkafirkan kelompok lain, semakin kita mempertentangkan itu semakin kita mudah dipecah belah. 



Monday, February 16, 2015

Negara Paling Korup di Dunia

Adalah sebuah kisah tentang sebuah negara yg amat sangat indah dan kaya.  Alam pemandangannya indah, bertabur ribuan pulau, gunung-gunung dan danau-danau serta ribuan sungai.  Tidak hanya indah alamnya, hutan hujan tropis yg lebat juga dihuni beraneka ragam satwa liar dan langka. Selain itu perut buminya mengandung emas, besi, perak dan tembaga, tak terhitung banyaknya bahan tambang dan mineral yg jika dikelola dengan baik tentu akan membuat rakyat negeri ini hidup sejahtera, aman tenteram dan makmur.

Sayang beribu sayang, sebagian rakyat dan para pemimpin negeri ini adalah orang-orang yang serakah dan tamak. Tidak pernah terpikir oleh mereka untuk mensejahterakan rakyat bangsa, sebaliknya mereka berlomba-lomba memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

Singkat cerita negara ini akhirnya menjadi negara paling korup di dunia.

di mana koruptor bebas berkeliaran
di mana koruptor yg sudah tertangkap dan dihukum, mendapat kemudahan dan remisi hukuman
di mana seorang koruptor bisa menjadi kepala polisi
di mana bahkan presiden, wakil rakyat, para pejabat dan para penegak hukum semuanya mendukung korupsi
di mana para petugas anti korupsi dan keluarnganya diancam dibunuh

di mana korupsi tidak menjadi perbuatan tercela dan memalukan
di mana anak muda dengan bangga memamerkan kekayaan orang tuanya yg didapat dari korupsi


Thursday, January 22, 2015

Halo Polisi "Gendut" (2)

Masih terkait pencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri.

Kompas edisi hari ini Kamis, 22 Januari 2015 memuat pernyataan Dai Bahtiar mantan Kapolri, bahwa sebaiknya Polri tidak bersikap konfrontatif ke KPK. Lengkapnya saya kutip sbb: "Polri harus merangkul KPK, merangkul Kejaksaan Agung. Dulu memang pernah ada konflik antara Polri dan KPK, yg sering disebut sebagai 'cicak vs buaya'. Tinggalkan itu, lupakan itu. Sesama penegak hukum harus saling menghormati dan saling bekerja profesional, baik itu Polri, Kejaksaan Agung dan tentunya KPK"

Menurut saya tidak ada yg baru dari pernyataan Dai Bahtiar, tidak ada yg istimewa, tidak menggigit dan tidak banyak manfaatnya.  Menurut saya kerja sama Polri dengan KPK itu mudah saja dilaksanakan sejauh Polri punya tekad yg sama memberantas korupsi.

Jenderal Dai Bahtiar harus ingat perseteruan 'cicak vs buaya' dulu yg memulai juga bukan KPK, tapi Polri. Saat itu Jenderal Susno Duadji yg merasa terusik dengan langkah-langkah yg dilakukan KPK, sampai melontarkan istilah 'cicak vs buaya'.   Berikutnya kasus penyidik KPK yg berasal dari Polri lalu ada pendudukan kantor KPK oleh Polri, semua "perseteruan" atau "perselisihan" antara KPK dengan Polri bukan KPK yg memulai.

Di lain pihak, ada banyak hal yg sebetulnya bisa dilakukan oleh Polri, kalau, sekali lagi kalau Polri serius dalam memberantas korupsi.

Yang pertama-tama dan paling penting adalah bagaimana Polri menindaklanjuti masalah "rekening gendut" yg dimiliki para petinggi Polri.  Semua Jenderal pemilik rekening gendut harus bisa menjelaskan dari mana kekayaan tersebut mereka dapatkan.  Termasuk juga menjelaskan banyak kejanggalan yg lain (misalnya kasus Labora Sitorus, bintara polisi di Papua yg memiliki dana sebesar Rp 1,5 Trilyun di rekeningnya).  Itu harus dijelaskan secara terbuka dan transparan ke publik.

Polri harus membuktikan itikad baiknya memberantas korupsi, dengan pertama-tama membersihkan dirinya sendiri, memberantas korupsi di internal Polri.  Seandainya soal rekening gendut ini bisa di-clear-kan, Saya yakin itu merupakan langkah awal yg sangat berarti.

Jika Polri bersih dan punya tekad memberantas korupsi saya yakin kerja sama dengan KPK dan Kejaksaan Agung adalah hal yg mudah sekali dilakukan. 


Cuplikan berita di Harian Kompas, 21 Januari 2015. Labora Sitorus belum juga ditahan padahal vonis dari Mahkamah Agung sudah dijatuhkan sejak September 2014.

Halooooo Polisi, mana bukti keseriusan Anda memberantas korupsi ?
mulailah dari diri Anda sendiri dulu.
   .  

Monday, January 19, 2015

Halo Polisi "Gendut"

Posting ini saya buat sebagai tanggapan atas pencalonan Komisari Jenderal Budi Gunawan sebagai KAPOLRI oleh Presiden Joko Widodo.

Bagi Anda para polisi, khususnya Anda yg memiliki rekening "gendut", silakan Anda berkaca dan jujur pada diri sendiri, apakah harta kekayaan Anda diperoleh melalui cara yang sah dan halal, atau sebaliknya ?   Institusi Anda boleh saja menyatakan Anda bersih, tapi apakah betul Anda bersih ?, tidak usah dijawab, silakan jujur pada diri Anda sendiri.

Apakah masuk akal, jika seorang Jenderal polisi memiliki kekayaan hingga puluhan bahkan ratusan milyar.  Berapa gaji seorang Jenderal Polisi, seandainya separuh saja gaji Anda ditabung, apakah akan terkumpul kekayaan sebesar ratusan Milyar dalam sekian tahun ?   Jika Anda berbisnis, bisnis apa yg Anda jalankan, dari mana modal Anda, beranikah Anda secara terbuka melaporkan perkembangan bisnis Anda sejak mulai dirintis hingga saat ini.

Kasus Labora Sitorus, seorang bintara polisi dari Papua lebih luar biasa lagi, bayangkan seorang polisi berpangkat AIPTU (Ajun Inspektur Polisi Satu) atau setara dengan Pembantu Letnan Satu di TNI AD memiliki simpanan senilai Rp 1,5 Trilyun di rekeningnya. Darimana kekayaan sebesar itu ? mustahil bahwa pimpinan atau komandan tidak tahu kegiatan apa yg dilakukan oleh bawahannya, apalagi hingga menghasilkan uang dalam jumlah sebanyak itu.

Saya tidak ingin menghakimi, silakan saja proses hukum berjalan, silakan Anda membela diri, tapi apapun hasil dari proses hukum yg berjalan, saya hanya ingin mengetuk pintu hati Anda, jujurlah pada diri Anda sendiri. Masyarakat mungkin bisa dibohongi, hukum mungkin bisa diatur, jaksa dan hakim bisa Anda bayar, tapi Anda tidak bisa membohongi diri sendiri.

Bayangkanlah Saudara-saudara kita yg hidupnya berkesusahan, anak-anak yg tidak dapat bersekolah, bayi-bayi yang tidak mendapatkan gizi, bapak dan ibu yang bekerja keras membanting tulang seharian untuk menyambung hidup.  Sementara Anda mempunyai kekayaan berlimpah yang tidak dapat dijelaskan darimana asalnya. Hidup Anda nyaman di rumah yg megah, dan hebatnya lagi Institusi Anda menyatakan bahwa Anda bersih.

 Seorang buta penjual kerupuk, saya ambil gambarnya pada saat sedang melayani pembeli. (lokasi Jl Barkah, Jakarta Selatan, Oktober 2014)
   


Friday, January 16, 2015

Beriman Secara Cerdas

Saya merasa - entah benar, entah tidak -  bahwa semakin lama kehidupan beragama dan/atau toleransi beragama kita di Indonesia mengalami kemunduran.  Setidaknya itu yg saya rasakan, kalau saya bandingkan dengan keadaan waktu saya kecil (SMP - SMA) atau waktu kuliah dulu (beberapa belas tahun yang lalu).

Sepertinya masyarakat semakin terkotak-kotak, dan salah satu kotaknya adalah agama.  Terasa kental sekali pada saat pemilihan presiden kemarin, isu agama menjadi salah satu senjata untuk menjatuhkan lawan.  Hal serupa juga terjadi pada saat pemilihan gubernur DKI tahun 2007, terasa kuat sekali isu agama digunakan.  Sekarangpun sekelompok anggota masyarakat berusaha "menjatuhkan" Ahok, gubernur DKI dengan isu agama.

Kalau boleh saya berpendapat (mohon maaf jika terdengar kasar), bangsa kita tidak cerdas, malas berpikir, malas berpikir membuat kita menjadi bodoh, hilang sikap kritis, akhirnya mudah dihasut dan percaya begitu saja pada pandangan orang lain, meskipun argumennya lemah.

Sekali lagi menurut saya seharusnya kita beriman secara cerdas, apapun agama yg kita anut.  Cerdas dalam arti secara kritis memahami perintah agama berikut konteksnya.  Sekali lagi konteksnya.  Saya percaya bahwa apapun yg diperintahkan oleh agama (agama apapun), ada latar belakangnya ada konteksnya.  Menjadi kewajiban kita untuk mencari tahu konteks perintah tersebut.

Saya ingin memberi beberapa contoh, Islam mengijinkan poligami sampai maksimum 4 istri.  Dalam konteks apa poligami ini diijinkan ?  Tentu bukan untuk menuruti hawa nafsu, bisa menikahi banyak perempuan muda dan cantik.  Nabi sendiri adalah pelaku poligami tapi dalam kondisi apa, itu yg perlu kita pahami.

Contoh lain misalnya, ada hadits yang berbicara tentang jangan memilih pemimpin non muslim. Ini juga harus kita pahami konteksnya.  Dalam kasus ada banyak calon pemimpin muslim yg baik, saleh dan berkualitas, tentu lebih baik kita memilih pemimpin muslim.  Tapi dalam kondisi misalnya hanya ada dua calon: yg satu muslim tapi koruptor dan gemar "bermain perempuan" sementara satu lagi adalah non muslim tapi jujur, bersih dan berkompeten. Mana yg akan kita pilih ?

Dalam agama lain hal yg sama saya kira terjadi juga. Kristen misalnya tidak mengijinkan perceraian. Nah kalau misalnya suami Anda adalah seorang pemabuk, penjudi sekaligus penggangguran tak bertanggung-jawab, apakah Anda tetap akan mempertahankan perkawinan Anda.  Apakah mau menunggu sampai suami Anda bertobat ?

Contoh lain, saya ingin mengutip pernyataan Ustad Felix Siauw (saya ambil dari Twitter) sbb: "...membela nasionalisme gak ada dalilnya, gak ada panduannya, membela Islam jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya..."  Membaca pernyataan seperti ini, kita harus kritis, meskipun diucapkan oleh seorang ustadz, apakah pernyataan itu bisa diterima, apakah masuk akal, apa dasarnya, dalam konteks apa, apakah ada konteks dimana pernyataan tersebut sahih ?   Sebagai pembanding, untuk memanfaatkan dan mengembangkan nalar yg kita miliki, silakan cek ulasan dari Warung Nalar.

Kejanggalan yg mirip terjadi juga di kalangan Kristen. Baca twit dari Pendeta Gilbert Lumoindong "Yoga bukanlah olah raga, yoga adalah penyembahan, anak-anak Tuhan hindarilah yoga, untuk tenang cukup berdoa, bukan dengan Yoga, TUHAN CUKUP.." saya tidak ingin berkomentar soal ini, silakan Anda gunakan nalar untuk menilai apa yang dikatakan oleh Gilbert.

Berikutnya ada sebuah blog yg memuat antara lain "Jual Beli yg Dilarang dalam Islam", perhatikan butir ke-3, saya kutip sbb: Di antara jual beli yang dilarang ialah, menjual berbagai macam alat musik.
Seperti seruling, kecapi, perangkat-perangkat musik dan semua alat-alat yang dipergunakan untuk perbuatan sia-sia. Meskipun alat-alat itu diberi istilah lain, seperti alat-alat kesenian. Maka haram bagi kaum muslim untuk menjual semua alat dan perangkat-perangkat itu. Seharusnya alat-alat tersebut dimusnahkan dari negeri kaum muslimin agar tidak tersisa. 


Silakan Anda mencerna dengan logika dan nalar Anda, kutipan blog di atas. Kenapa alat musik dikatakan haram, apa dasarnya.....

Diskusi ini bisa dilanjutkan hingga ke mungkin puluhan atau ratusan contoh lainnya. Dan semuanya adalah hal yg nyata kita alami dalam hidup sehari-hari.

Sekali lagi saya ingin mengajak kita semua untuk bersikap kritis, Allah menganugerahi kita otak untuk berpikir, gunakanlah itu.   Sayang sekali kita punya otak kalau tidak digunakan.

Kalau kita mampu berpikir kritis, meletakkan segala hal pada tempat dan konteksnya, maka kehidupan berbangsa dan bernegara harusnya tidak ada masalah.  Karena apa yang diajarkan oleh agama itu pasti baik, hanya kita saja yang salah menafsirkan.

Mari kita beriman secara cerdas, mudah-mudahan bangsa ini bisa menjadi maju, adil dan makmur. 

Monday, January 12, 2015

Chalie Hebdo, ISIS dan FPI


Seminggu terakhir ini, dunia dikejutkan dengan peristiwa penembakan terhadap jajaran redaksi Charlie Hebdo di kantor mereka di Paris, yang menewaskan 12 orang termasuk seorang muslim polisi Perancis, serta melukai 10 orang lainnya. 

Saya tidak ingin membahas peristiwa penembakan tersebut, yang saya ingin bahas adalah reaksi publik atas peristiwa tersebut.  (serta bagaimana menurut saya seharusnya kita bereaksi).

Pertama-tama kita perlu membayangkan seperti apa kira-kira jajaran redaksi atau para pengelola majalah Charlie Hebdo ini.  Dari cara mereka menghina agama (tidak hanya agama Islam tapi juga Kristen dan Katolik, jelas sekali bahwa mereka atheis.  Melalui berbagai kartun dan gambar itulah mereka mengejek  kaum beragama (apapun agamanya).

Berhadapan dengan kaum atheis, kita yg (mengaku) beriman dan beragama ini harusnya mengalah.  Pada saat kaum atheis mengolok-olok Nabi (secara tidak langsung juga mengolok-olok Allah), pada saat itulah mereka memamerkan kegilaan mereka, kegilaan dan kebodohan karena mereka menolak menyadari bahwa kita manusia adalah ciptaan Allah, menolak mengakui adanya Allah Sang Maha Pencipta.

Di titik inilah saya berpandangan bahwa apa yg dilakukan oleh Charlie Hebdo itu tak perlu ditanggapi oleh semua mereka yg beriman.   Ibarat seorang anak balita yg melemparkan kerikil ke orang dewasa.

Di lain pihak, pada saat yg sama kita juga melihat gerakan-gerakan ekstrim yang mengatas namakan agama, contoh yang paling jelas saat ini adalah gerakan ISIS di Irak & Suriah.

Apa yang dilakukan oleh ISIS jelas jauh lebih berbahaya daripada Charlie Hebdo.

Pertama: Charlie Hebdo tidak pernah membunuh, kejahatan mereka adalah menistakan agama dan/atau nabi dan/atau Allah.  Kejahatan Charlie Hebdo sebatas melalui kertas, pena dan tinta bukan senjata dan pedang. Bandingkan dengan ISIS, kelompok ini sudah membunuh lebih dari 2.000 orang baik itu Kristen maupun Islam sendiri, termasuk anggota mereka yg hendak keluar dari kelompok.

Kedua, pada saat melakukan kejahatannya, Charlie Hebdo tidak pernah menyerukan nama Allah atau
mengatasnamakan agama.  Bandingkan dengan ISIS, jelas-jelas mereka menyebutkan Islam dan menggunakan simbol-simbol Islam.

Ketiga, apa yang dilakukan oleh Charlie Hebdo sama sekali tidak menyebabkan citra Islam (atau Kristen) menjadi rusak, pada saat membuat dan mempublikasikan gambar-gambar yg menghina nabi, citra nabi tidak menjadi rusak, yg rusak dan tetap rusak adalah Charlie Hebdo sendiri, sebagai kelompok yang tak berakhlak.   Bandingkan dengan ISIS, apa yg dilakukan oleh ISIS jelas mencoreng nama harum Islam sebagai agama yg cinta damai dan kehidupan.

Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir jernih, bukan maksud saya untuk membela Charlie Hebdo, biarlah Charlie Hebdo hidup di Perancis, dan tunduk pada hukum Perancis, salah satu negara sekuler (atau atheis ?) di atas muka bumi ini.

Saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir jernih, tentang bagaimana seharusnya kita bereaksi melihat penistaan agama (kalau itu disebut sebagai penistaan), pada saat Charlie Hebdo menistakan nabi, tidakkah mereka sedang menistakan diri mereka sendiri ?.

Lalu apa hubungannya dengan FPI, menurut Anda apakah FPI itu membela Islam atau justru sebaliknya menistakan agama Islam ?

Monday, December 22, 2014

Semoga Damai Natal menyertai Bangsa dan Rakyat Indonesia




Setiap menjelang akhir tahun, selalu ramai diperbincangkan di negara kita soal hukumnya mengucapkan Selamat Natal kepada Saudara-saudara kita umat Kristiani.  Sebagian Ulama membolehkan, sementara sebagian lainnya mengharamkan hal tersebut.

Saya sendiri mengganggap ini adalah salah satu topik perbincangan yang tidak penting dan patut disesalkan (dalam bahasa yg lebih lugas: tidak bermutu).   Kenapa ?

  1. Di kalangan Islam sendiri ada perbedaan penafsiran soal ini. Sebagian Ulama membolehkan, dan sebagian lainnya mengharamkan. 
  2. Perbedaan penafsiran itu sendiri sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Bagi Anda yg menganggap itu haram silakan, bagi Anda yg menganggap hal itu baik, juga silakan.
  3. Apapun pilihan Anda, selayaknya kita tetap menjaga perasaan saudara-saudara Nasrani, tidak usahlah mempengaruhi orang lain untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu hal seperti kita melakukan atau tidak melakukannya.  Bahkan memperbincangkan hal ini secara terbuka sebetulnya juga tidak etis. Bayangkan saja misalnya ada satu kelompok orang yg melarang anggotanya untuk berjabat tangan dengan Anda yg Muslim, tidakkah itu menyakitkan.
  4. Dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, saya pribadi berpandangan bahwa lebih penting mendahulukan kepentingan negeri ini di atas kepentingan iman yang saya anut.
Selain ucapan selamat natal, kita juga banyak diributkan dengan masalah atribut natal, pemakaian topi natal, mungkin nanti juga ada yg memasalahkan pemasangan pohon natal, mendengarkan lagu natal dsb.  Apakah dengan melakukan hal-hal itu berarti iman Anda sudah goyah. Betapa menyedihkan cara kita berpikir !

Saya sertakan dalam posting ini dua gambar yang sy ambil dari akun Twitter Denny Sakrie, seorang pengamat musik (rupanya masyarakat kta di era tahun 1970an jauh lebih toleran dan lebih rasional dalam berpikir). 


Semoga Allah mengasihani bangsa yang tidak cerdas ini, semoga Damai Natal menyertai Bangsa dan Rakyat Negeri ini. Selamat Natal.

Baca sebagai pembanding:
Ucapan Selamat Natal dari Ketua Umum PB NU
Irfan Hamka: Buya Hamka mengucapkan Selamat Natal...



Tuesday, October 21, 2014

Haramkah Pemimpin Non Muslim ?

Seorang kawan memberi saya sebuah buku yang sangat menarik berjudul: "Pemimpin Non Muslim, siapa pro siapa kontra", karangan Muhsin Labib, Penerbit Alinea Books, Jakarta Oktober 2014.

Lepas dari setuju atau tidak, terbitnya buku ini menurut saya merupakan sumbangan besar bagi Indonesia.   Setidak-tidaknya ada alternatif cara berpikir yg berbeda dengan yang selama ini kita yakini.  Cara berpikir yang berbeda tidak perlu ditolak, sebab justru bisa menguji argumen yg kita gunakan saat ini, apakah memang sahih atau tidak.  Sebaliknya bila cara berpikir baru tersebut ternyata benar dan bisa diterima, selayaknya kita berbesar hati menerimanya.

 Ada beberapa pokok pikiran menarik yang bisa saya ambil dari buku ini.
1. arti dan definisi kafir, saya tidak akan menguraikan gagasan tentang  "kafir" yg dibahas di buku ini, saya sekedar ingin mengajak Anda untuk menelaah kembali arti kata tersebut.
2. bahwa "non muslim" belum tentu kafir, sekali lagi saya tidak akan bahas uraian di buku ini, yang pasti pokok pikiran ini terkait erat dengan arti dan definisi kafir yg perlu dipahami.
3. perlu kita pahami, dalam konteks apa Al Quran melarang Umat Muslim mengangkat seorang non muslim atau kafir menjadi pemimpin. Hal ini saya kira penting sekali, sebab saya percaya bahwa Allah tentu punya maksud dengan perintah-perintahNya, dan menjadi tugas kita untuk secara kritis memahami perintah tersebut.
4. bahwa pemimpin dalam relasi horisontal (hubungan antar manusia dalam hidup bernegara dan bermasyarakat) berbeda dengan pemimpin dalam relasi vertikal (umat Muslim dengan Allah).  Yang pertama mengacu pada konstitusi dan UU, yang kedua mengacu pada hukum Agama (Al Quran).

Selebihnya saya ajak Anda untuk membaca lebih detail buku ini dan menemukan sendiri pokok pemikiran yang baru yang bisa jadi bertolak belakang dengan apa yg saat ini Anda pahami.  

Info dari akun Facebook Pemimpin Non Muslim, buku ini sudah bisa diperoleh di Toko Buku Gramedia di Pondok Gede Mall dan Mega Mall Bekasi, atau secara online di belibuku.

Thursday, October 02, 2014

Surat untuk Megawati

Seorang Megawati tentu punya segudang kesibukan yg membuat waktu luangnya menjadi sangat terbatas. Apalagi hanya untuk membaca sebuah blog tak dikenal seperti ini.  Namun demikian saya tetap menulis "surat terbuka" ini. Seandainyapun ibu Megawati tidak membacanya, setidaknya ada beberapa orang (termasuk Anda) yg membaca surat ini, dan Anda bisa menilai tulisan ini, apakah tepat atau tidak.  Mudah-mudahan saja dari sekian banyak anggota dan kader PDI-P, ada satu atau dua orang yg (entah bagaimana) bisa membaca surat ini.

Surat untuk Megawati
  1.  Perkembangan politik di Indonesia akhir-akhir ini membuktikan bahwa sekalipun PDI-P mendapatkan perolehan suara terbanyak pada Pileg 2014, partai Ibu Mega bukan apa-apa. Faktanya DPR dikuasai oleh Koalisi Merah Putih yg dimotori oleh Gerindra dan Golkar.  Kursi Ketua DPRpun besar kemungkinan tidak bisa dipegang oleh PDI-P.
  2. Ibu Mega harus berani mengakui bahwa perolehan suara terbanyak PDI-P pada Pileg lebih karena faktor Jokowi yang diusung sebagai capres oleh PDI-P..  Silakan baca analisa detail di Majalah Tempo (edisi tidak lama setelah penetapan Jokowi sebagai capres).
  3. jika ingin mendapatkan tempat di hati rakyat,PDI P harus konsisten dalam berjuang dan berpihak untuk rakyat, mendukung atau tidak mendukung suatu kebijakan pemerintah itu harus didasarkan pada pertimbangan kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan partai.   Sebagai contoh kebijakan kenaikan harga BBM, ibu Mega harus menghitung; kalau kebijakan itu baik bagi kondisi ekonomi negeri ini maka kebijakan tersebut harus didukung, lepas dari siapapun presidennya, entah SBY atau Jokowi.
  4. sudah waktunya ibu Mega memberi kesempatan kepada kader-kader PDI-P untuk maju memegang kepemimpinan di partai Cap Banteng yang ibu pimpin.  Roda kaderisasi akan berhenti jika kader-kader potensial yg masih muda tidak diberi kesempatan untuk tampil ke depan.  Di usia 67 tahun ini, ibu Mega masih melanjutkan memegang posisi Ketua Umum, mudah-mudahan tidak menjadi penghambat proses regenerasi partai.
  5. masih terkait regenerasi, ibu Mega harus ingat bahwa PDI-P adalah milik rakyat, bukan milik keluarga besar keturunan mantan presiden Soekarno, artinya kader yang terbaiklah yg harusnya diberi kesempatan untuk tampil sebagai pemimpin, bukan anak atau keponakan yang tidak kompeten.
  6. terkait dengan Jokowi yang terpilih sebagai presiden, ibu Mega harus ingat bahwa begitu dilantik sebagai presiden, maka Jokowi menjadi milik bangsa ini bukan lagi menjadi kader partai yang bekerja untuk partai.  Selama masa kampanye pilpres ramai sekali digunjingkan bahwa Jokowi hanyalah boneka partai yg bekerja untuk ibu Mega, Anda harus membuktikan bahwa isu tersebut tidak benar. Sekali lagi ibu Mega harus membuktikan posisi PDI-P sebagai partai wong cilik, yang mengabdi untuk kepentingan rakyat dan bukan sebaliknya mengatur presiden sesuai dengan keinginan dan kepentingan ibu Mega dan PDI-P.
  7. ibu Mega harus menjaga betul seluruh anggota DPR dari PDI-P, jangan sampai terlibat dalam tindak korupsi, buktikan bahwa PDI-P tulus bekerja untuk rakyat dan mengabdi kepentingan rakyat, bukan kepentingan partai atau kepentingan ibu Mega.
Jika  ibu Mega berkenan mendengarkan saran-saran saya yg bukan siapa-siapa ini,  saya yakin rakyat (yang sudah semakin cerdas) akan  mencintai ibu dan partai yang ibu pimpin.  Insyaallah pada Pileg mendatang tahun 2019, PDI-P bisa memperoleh suara terbanyak.

Friday, September 26, 2014

Sikap SBY terhadap RUU Pilkada Terbukti Hanya Pencitraan











Saya dan banyak orang dan (mungkin) sebagian dari Anda termasuk pendukung Pilkada secara langsung oleh masyarakat, tidak melalui DPRD yang (konon) adalah wakil rakyat.  Pada saat mendengar kabar bahwa SBY juga mendukung Pilkada secara langsung, saya cukup optimis bahwa keinginan segelintir orang yang dimotori oleh Koalisi Merah Putih di DPR RI untuk mengubah UU Pilkada ini tidak akan berhasil.   Apalagi kabar tentang sikap SBY tersebut  bahkan ada rekamannya di Youtube, di beberapa harian juga saya baca.











Terus terang saya sempat berprasangka bahwa sikap SBY tersebut didasari oleh perolehan Partai
Demokrat yang sangat rendah pada Pemilu kali ini, sehingga seandainya pemilihan melalui DPRD sekalipun, kecil peluang Demokrat untuk bisa mengajukan calonnya, mengingat jumlah suaranya yang rendah.













Ternyata dugaan saya keliru. Bahwa ternyata sikap politik SBY tersebut tidak sungguh-sungguh. Hanya sekedar pencitraan atau memberi kesan positif saja. Faktanya pada saat voting penetapan RUU Pilkada tersebut, seluruh anggota fraksi Demokrat melakukan walk out.   Suatu hal yang mustahil tidak diketahui atau tanpa seijin SBY selaku Ketua Umum sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Sekali lagi, fakta membuktikan dan Anda bisa melihat sendiri, apakah bapak SBY mempunyai ketulusan hati dalam bertindak.

Saturday, September 20, 2014

Merindukan Pemimpin yang Cerdas dan punya Visi (renungan kecil menyambut IIMS 2014)


Siapapun Anda, saya yakin Anda mendambakan bahwa pemimpin Anda adalah seorang yang cerdas dan punya visi yang bagus. Cerdas saja tidak cukup, sebab sekalipun cerdas bila tidak punya visi yang jelas dan tidak punya ketegasan sikap, mustahil bisa menghasilkan kebijakan yang bagus, adil dan berorientasi untuk kepentingan rakyat banyak.

Pada kesempatan ini, saya ingin membahas masalah klasik yang sudah dihadapi Indonesia sejak bertahun-tahun yang lalu, subsidi BBM yang tinggi dan terus membengkak sehingga membebani anggaran negara.  Pemerintah yang tidak cerdas mengeluhkan masalah tersebut dan berulang kali gagal mengatasinya.

Menurut saya (yang bukan orang pintar ini), tingginya subsidi BBM disebabkan karena kegagalan pemerintah menyediakan transportasi publik yang layak dan nyaman dipakai. Akibatnya banyak orang lebih suka membeli kendaraan pribadi, karena terasa "nyaman" dan fleksibel.  Hal ini menyebabkan masalah baru yaitu tingginya konsumsi BBM dan otomatis tingginya beban subsidi, kedua adalah masalah kemacetan dimana-mana, berikutnya adalah polusi udara yang parah, dilanjutkan dengan kualitas hidup yg buruk karena orang lelah, energi terbuang sia-sia karena berjam-jam waktu habis di jalan karena macet, plus harus menghirup udara yg kotor kena polusi.

Pemerintah kita sudah jelas sekali gagal menganalisa masalah ini (entah ini rumit atau sederhana).  Terbukti hingga saat ini pemerintah masih belum berhasil menyediakan transportasi yang layak dan nyaman.  Mudah-mudahan ada sedikit perbaikan dengan pembangunan MRT di Jakarta.

Kebijakan LCGC (low cost green car) yang ramai diributkan beberapa waktu lalu (dan ditentang oleh Gubernur DKI Jokowi) jelas-jelas membuktikan bahwa pemerintah tidak punya visi. Argumen presiden SBY juga terdengar janggal dan ajaib, waktu beliau berkilah mengatakan bahwa LCGC diperuntukkan bagi masyarakat pedesaan.  Prihatin saya mendengarnya........   (sejenak tertawa miris.....).

Seandainya saya (yang tidak pintar ini) berperan sebagai pemerintah, menghadapi masalah seperti ini saya akan mengambil beberapa langkah sebagai berikut:
  1. menyediakan transportasi yang layak dan murah, alih-alih memilih MRT atau monorail atau apapun transportasi dengan teknologi tinggi dan mahal, saya akan mengusahakan pembangunan KRL menjangkau sebanyak mungkin area pemukiman padat penduduk (anggaran Trilyunan untuk subsidi BBM dialihkan saja untuk pembebasan lahan, KRL kita gunakan produk lokal PT INKA Madiun)..
  2. pembatasan kendaraan pribadi, pajak kendaraan dinaikkan berlipat ganda terlebih untuk mobil mewah di atas kapasitas cc tertentu (misalnya di atas 1.500 cc, pajak berlipat ganda)
  3. pajak mobil dilipat gandakan lagi untuk mobil kedua dst yang dimiliki oleh satu keluarga (hal ini akan menjadi PR dalam implementasinya karena dibutuhkan dukungan data yg lengkap dan valid)
  4. pembatasan penjualan mobil, pembatasan impor mobil, pelarangan pameran mobil
Anda boleh setuju atau tidak dengan saya. Tapi menurut saya, tingginya konsumsi mobil di Indonesia (terutama Jakarta) memberi keuntungan terbesar bagi produsen mobil yang nota bene semuanya adalah pihak negara asing. Rakyat mungkin mendapat sedikit saja keuntungan tapi lebih banyak kerugian.

IIMS (Indonesia International Motor Show) kembali digelar tahun ini.  Ajang bergengsi yang menyedihkan, puluhan ribu orang mengantri membeli tiket seharga Rp 40.000.- untuk masuk ke area pameran.  Masyarakat diming-imingi dengan berbagai mobil canggih, mewah dan mahal.   Trilyunan Rupiah transaksi terjadi, belasan ribu mobil terjual. Akibatnya Jakarta makin macet, udara makin kotor, konsumsi BBM bertambah, beban subsidi semakin membengkak.

Sekedar info saja, IIMS tahun 2011 diperkirakan membukukan transaksi penjualan mobil senilar Rp 3,2 Trilyun. IIMS tahun 2012 transaksi penjualan Rp 4,5 Trilyun. IIMS tahun 2013 transaksi sebesar hampir Rp 5 Trilyun dan 19.367 mobil terjual.   Para pengusaha mobil dan produsen mobil (dari negara lain) semuanya tertawa senang.

Ironi. 

Sunday, September 14, 2014

Mempertanyakan Kebijakan Presiden SBY

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak Presiden, siapapun presiden yg menjabat entah itu pak SBY atau pak Jokowi, saya kira kita harus selalu kirits menyikapi kebijakan pemerintah. Apakah kebijakan itu tepat dan kenapa kebijakan tersebut harus diambil.

Terus terang saya sangat kaget membaca berita utama di Harian Warta Kota, Rabu, 10 September 2014 lalu. Bunyi beritanya: "Mobil Dinas Menteri Baru Rp 1,8 Milyar, pengadaan oleh pemerintah SBY, Jokowi tak setuju pengadaan mobil baru".

Di saat kondisi ekonomi negara sedang terpuruk seperti ini, kok tega-teganya mengambil keputusan seperti itu.   Apa urgensinya membeli mobil baru seharga Rp 1,8 Milyar.  Mobil seharga Rp 500 Juta saja sudah sangat mewah.  Jargon-jargon pak SBY yang selama ini seolah-olah peduli pada kesejahteraan rakyat jadi hilang tak berbekas.  Sebetulnya ini bukan peristiwa pertama, sebelumnya kebijakan pemerintah SBY untuk membeli pesawat kepresidenan juga membuat saya heran tak habis pikir.  Juga kemudian pembelian sekian ratus tank Leopard II dari Jerman.

Selama pemerintahan SBY begitu banyak kasus pengeluaran uang negara dengan cara yang -menurut saya- tidak layak, lebih tepat disebut menghambur-hamburkan uang rakyat untuk keperluan yang tidak urgen dan tidak langsung berkaitan dengan kesejahteraan rakyat, namun lebih pada citra dan prestise saja.

Semakin kaget lagi saya ketika membaca Harian Koran Jakarta Minggu, 14 September 2014. Kolom "Perspektif" di halaman 2 berjudul "Transparansi Utang Negara"   Di situ disebutkan bahwa pada akhir tahun 2012 utang luar negeri Indonesia sebesar Rp 2.156 Trilyun dan pada akhir 2013 besarnya Rp 2.652 Trilyun, jadi selama tahun 2013 saja, pemerintah SBY telah menambah utang sebesar hampir Rp 500 Trilyun.

Saya tidak punya komentar atas hal ini, selain kaget bercampur heran dan bingung, bagaimana penjelasan pak SBY atas hal ini, dan bagaimana dalam kondisi keuangan seperti itu pemerintah SBY masih sempat mengadakan pembelian pesawat kepresidenan (yang menurut saya tidak perlu), juga ratusan tank Leopard II (yang juga menurut saya tidak mendesak) dan mungkin ada banyak lagi keputusan pembelian lain yang kita tidak tahu karena tidak pernah dipublikasikan ke rakyat banyak para pembayar pajak.

Saturday, August 09, 2014

Mengenal ISIS

Lagi soal ISIS, yang semakin hari semakin ramai menjadi bahan perbincangan.  Setidaknya sudah ada tiga menteri yang menyatakan sikap resmi dari Pemerintah Indonesia atas gerakan ISIS yaitu Menteri Luar Negeri, Menteri Agama serta Menteri Hukum dan HAM.  Disusul kemudian Panglima TNI dan tak ketinggalan pernyataan resmi dari MUI dan beberapa Ormas Islam.

Namun aneh bin ajaib bahwa hingga saat ini berbagai rekaman video tentang ISIS masih bisa diakses melalui Youtube, padahal sudah banyak permintaan untuk melakukan blokir atas konten tersebut, bahkan juga dari presiden SBY. Saya tidak tahu apakah pak Tifatul Sembiring termasuk simpatisan dan pendukung ISIS, hanya beliau sendiri yang tahu.....

Bahwa ISIS dilarang di Indonesia sekarang sudah jelas, tapi apa itu ISIS, bagaimana proses terbentuknya dan apa tujuan gerakan tersebut, saya kira masih banyak orang yg belum paham. Kebanyakan orang (termasuk saya sendiri) memahami ISIS secara tidak lengkap, bahwa ISIS kejam, bahwa ISIS menghancurkan Mesjid dan Gereja, bahwa ISIS mengusir warga Kristen di Mosul dsb......  tapi apa atau kenapa......  Siapa di belakang ISIS ini ?

Beberapa waktu lalu muncul sebuah situs yg menyebutkan bahwa menurut dokumen yg didapat Snowden, ISIS adalah bentukan intelijen tiga negara yaitu Inggris, Amerika dan Israel.   Apakah betul ?  saya tidak yakin, hingga saat ini saya tidak melihat indikasi ke arah itu.  Cukup sulit untuk melakukan klarifikasi atas hal ini atau setidaknya mencari sumber informasi alternatif.

Syukurlah bahwa pada tanggal 7 Agustus 2014 lalu, Harian Kompas memuat satu artikel menarik yg bisa menjadi salah satu rujukan tentang ISIS, judulnya: "NIIS Indonesia dan Evolusi Teror Mondial", tulisan Noor Huda Ismail.

Memang artikel ini belum bisa menjawab semua rasa penasaran kita atas ISIS, tapi setidaknya beberapa hal menjadi jelas atau lebih jelas (dan masuk akal).

Mengacu pada artikel tersebut, saya membuat beberapa catatan (kesimpulan saya):
  1. Bahwa ISIS bukan dibentuk oleh intelijen Inggris, Amerika Serikat dan Israel. Tapi bahwa salah satu pendorong  terbentuknya ISIS adalah invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003.
  2. Salah satu penyebab lahirnya ISIS adalah kehadiran Amerika Serikat di Irak, jatuhnya Saddam Husein dan pemerintah baru Irak dibawah Perdana Menteri Nouri al-Maliki yang beraliran Syiah dan tidak mengakomodasi kepentingan kaum Sunni.
  3. Abu Bakar al-Baghdadi yang saat ini menjabat sebagai Khalifah ISIS adalah salah satu anggota intelijen Irak yang ditahan tahun 2003 oleh Amerika Serikat dan dibebaskan pada tahun 2004.
  4. Mengacu pada butir no. 2 di atas, menjadi masuk akal bahwa ISIS memendam kebencian kepada kaum Syiah.  Saya menduga bahwa ISIS memendam kebencian kepada Kristen karena Amerika Serikat dianggap mewakili dunia Kristen (padahal tidak).
Lepas dari benar tidaknya kesimpulan yg saya ambil (yang sepenuhnya bergantung pada valid tidaknya artikel yg ditulis oleh Noor Huda Ismail).  Ada setidaknya satu catatan yg bisa ditulis dan menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia:

Bahwa siapapun harus berhati-hati betul, jangan sampai melakukan kekerasan dan diskriminasi pada pihak manapun, bahkan terhadap golongan minoritas, kenapa ? karena tindakan ini berpeluang mendorong lahirnya kelompok-kelompok radikal yang memendam kemarahan dan kebencian dan kemudian melakukan  tindakan balas dendam yang bisa jadi jauh lebih kejam.

Kita masih ingat peristiwa Sampit, Kalimantan beberapa tahun lalu, yang konon disebabkan karena tindakan semena-mena kaum etnis Madura pada Suku Dayak, yang nota bene adalah penduduk asli. Sampai di satu titik Suku Dayak yg merasa ditekan, disepelekan dan (mungkin) dihina menjadi marah dan melakukan balas dendam tak terkendali sehingga banyak orang Madura di Sampit yang kehilangan kepalanya.

Saya bukan bermaksud membela Suku Dayak atau ISIS, saya hanya ingin mengajak kita semua untuk mempelajari akar masalah dari suatu peristiwa, dari situ kita bisa belajar bagaimana seharusnya bersikap.

Khusus bagi para pemuda muslim di Indonesia sudah sangat jelas bahwa mendukung ISIS adalah salah dan tidak relevan dengan konteks Indonesia. Menjadi tugas pemerintah, aparat keamanan: polisi dan tentara serta kaum agamawan alim ulama untuk secara tegas mencegah lahirnya kelompok ekstrim yang berkiblat pada ISIS. Apapun alasan terbentuknya kelompok tersebut, faktanya mereka sendiri sudah mengingkari ajaran Islam yang mengajarkan kedamaian.

Friday, August 01, 2014

Mewaspadai ISIS di Indonesia

Saat ini dunia terserap perhatiannya ke Gaza, dimana militer Zionis Yahudi melakukan tindakan pembantaian atas rakyat Palestina yang tak berdaya. Hingga saat ini sudah lebih dari 1.400 warga Palestina yang tewas.
Perhatian ke warga Palestina di Gaza membuat kita lengah atas pembantaian lain yang tak kalah kejinya di kawasan Irak - Suriah.

ISIS atau Negara Islam di Irak dan Suriah, dalam bahasa Inggris adalah Islamic State in Iraq and al-Sham atau ISIL Islamic State in Iraq and The Levant adalah sebuah gerakan Islam yang bercita-cita mendirikan (kembali) Kekhalifan Islam mulai dari Irak dan Suriah.. 

Masalahnya bukan cita-cita apa yang hendak mereka capai, tapi bagaimana mereka mencapai cita-cita itu. ISIS menggunakan segala macam cara termasuk dan terutama kejahatan dan kekejaman.  Mereka tidak ragu membantai siapapun (termasuk sesama Muslim dan bahkan para Ulama yang tidak mendukung), ISIS menghancurkan Mesjid dan Gereja, juga makam Nabi Yunus.  ISIS dilaporkan juga memaksa warga Kristen di Mosul untuk berpindah iman menjadi Muslim atau mereka harus meninggalkan kota Mosul.

Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa gerakan ISIS ini rupanya mempunyai daya tarik luar biasa, hingga bisa merekrut banyak pemuda dari seluruh dunia termasuk Indonesia.  Bahkan dikabarkan sudah ada 30 pemuda Indonesia yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS di sana.

Saya tidak bermaksud membahas ideologi ISIS. Tapi saya melihat bahayanya.

Bagaimana sikap pemerintah Indonesia ?

Sejauh ini Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa sudah mengeluarkan pernyataan resmi mengecam ISIS.  Oke di satu hal, tapi saya kira itu tidak cukup.

Melihat potensi bahayanya seharusnya pemerintah Indonesia (Presiden SBY) bersikap tegas dengan menyatakan bahwa aktivitas mendukung ISIS di Indonesia adalah kegiatan terlarang.  

Saya menduga bahwa banyak pemuda Indonesia yang tertarik bergabung dengan ISIS tidak sepenuhnya paham gerakan apa yg mereka ikuti tersebut.  Mereka hanya semata-mata berpikir tentang bagaimana berjuang untuk Islam, tanpa sadar bahwa ISIS sendiri telah melanggar kaidah-kaidah dan ajaran Islam.  Di sinilah letak pentingnya penjelasan dari pemerintah tentang apa itu ISIS, apa bahayanya dan kenapa gerakan tersebut terlarang di Indonesia.

Saya kira lebih dini isu ini diantisipasi lebih baik, sebelum bibit-bibit kekerasan ini tumbuh subur menjadi banyak dan tak terkendali.

Tuesday, July 29, 2014

Mempertanyakan Kebijakan SBY memberhentikan KASAD

Saya bukan bermaksud untuk tidak percaya pada Presiden SBY.  Tapi seperti yg selalu saya sebutkan pada posting sebelumnya, kita harus selalu bersikap kritis. Kritis mempertanyakan segala sesuatu dan tidak percaya begitu saja pada suatu hal termasuk pernyataan resmi pemerintah.  Apabila satu pernyataan bertentangan dengan pernyataan yang lain atau fakta-fakta yg ada, kita layak dan wajib untuk bersikap kritis mempertanyakan hal tersebut.

Pada kesempatan ini saya mengajak Anda semua berpikir tentang pemberhentian KASAD Jenderal TNI Budiman belum lama ini.  Fakta apa saja yg ada di belakang peristiwa ini.  Kesimpulan silakan Anda tarik sendiri.



Fakta
  1. Dalam proses pilpres, SBY atau setidak-tidaknya Partai Demokrat menyatakan dukungan kepada capres no.1 Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.
  2. Dalam proses pilpres ada laporan di beberapa daerah bahwa Babinsa (Bintara Pembina Desa) melakukan intimidasi ke masyarakat untuk memilih capres tertentu.  Contoh kasus di Jakarta Pusat.
  3. KASAD Jenderal Budiman mengakui hal tersebut dan menyatakan telah mengambil tindakan tegas dan menjatuhkan sanksi hukuman ke Babinsa terkait.
  4. Berkebalikan 180 derajat dengan KASAD, Pangab Jenderal Muldoko membantah pernyataan KASAD dan menyatakan bahwa kasus Babinsa tidak terbukti.
  5. Proses pemilihan presiden dilakukan tanggal 9 Juli 2014, sejak tanggal tersebut sampai dengan pengumuman resmi pemenang pilpres oleh KPU tanggal 22 Juli 2014 telah beredar berbagai laporan hasil quick count yang memprediksi kemenangan pasangan capres no. 2 Joko Widodo dan Jusuf Kalla, salah satu rujukan adalah website kawalpemilu yg mengambil data langsung dari KPU..
  6. Sehari sebelum pengumuman resmi KPU mengenai hasil final perhitungan suara pilpres diumumkan penggantian KASAD Jenderal TNI Budiman.
  7. Pengumuman dan pernyataan resmi KPU bahwa pasangan capres no 2, Joko Widodo dan Jusuf Kalla telah memenangkan pilpres tahun 2014.
  8. Ucapan selamat dari Presiden SBY kepada Joko Widodo selaku presiden terpilih.
Jika saya ikuti uraian fakta di atas, saya melihat bahwa apa yang dilakukan Jenderal Budiman terkait kasus babinsa sudah tepat bahwa beliau mengakui adanya peristiwa tersebut dan bahkan telah menjatuhkan sanksi hukuman kepada bintara yang bersangkutan serta komandannya.  Berkebalikan dengan itu, apa yang dilakukan oleh Pangab Jenderal TNI Muldoko adalah aneh dan tidak masuk akal, bahwa Muldoko mengatakan hal tersebut tidak benar dan tidak terbukti. Kenapa, karena fakta di lapangan memang terjadi seperti itu, ada bukti dan ada saksi, informasi ini tidak hanya beredar di dunia maya, tapi juga di media cetak.

Terkait dengan hal ini apa yang dilakukan oleh SBY dengan memberhentikan Jenderal Budiman adalah aneh.  Hal ini menggiring saya pada pertanyaan apakah betul SBY secara tulus memberi dukungan kepada Joko Widodo selaku presiden terpilih. Ataukan ucapan selamat yg disampaikannya hanyalah sandiwara belaka ?

Jika betul SBY bersikap netral dan mendukung Joko Widodo, apa yang dilakukan oleh Jenderal Budiman harusnya diapresiasi, justru hal tersebut membuktikan posisi netral dari TNI AD.

Lalu kenapa Jenderal Budiman diberhentikan sebagai KASAD ?
Wallahualam, hanya Tuhan dan SBY yang tahu......

Saturday, July 26, 2014

Selamat untuk Bangsa & Rakyat Indonesia

Keputusan final KPU pada 22 Juli 2014 yang menetapkan pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia yg ketujuh sungguh melegakan saya.

Ini bukan soal Joko Widodo yang menang tapi jauh lebih dalam daripada itu. Ini adalah soal kemenangan rakyat sebagai pemilik negeri ini.  Bahwa mayoritas rakyat ternyata menggunakan hati nuraninya untuk memilih pemimpin yang tepat.  Bahwa ini adalah kemenangan kejujuran dan hati yang bersih melawan fitnah dan kampanye hitam.

Selamat untuk Joko Widodo dan Jusuf Kalla, selamat untuk Bangsa dan Rakyat Indonesia.



Tuesday, July 08, 2014

Saran (menjelang Pilpres 2014) buat Warga Minoritas

Menyambung posting saya sebelumnya berjudul "Dialog sensitif Menjelang Pilpres 2014" dan setelah ngobrol dan diskusi dengan beberapa teman, saya tergerak untuk membuat posting yang senada dengan hal terssebut. Sebut saja sebagai saran buat Saudara-saudara kita warga minoritas di negeri ini, tentunya masih terkait dengan Pilpres 2014.

Apa yang saya tulis ini sebetulnya bukan hal yang baru, ini sesuatu yg normatif saja, tapi mungkin banyak Saudara yang sudah lupa atau tanpa sadar telah menimbun harapan-harapan tertentu, Jadi saya sekedar ingin mengingatkan kembali saja.
  1. Tidak usah terlalu berharap pada Pilpres ini, tidak usah bermimpi bahwa  pasca Pilpres, nasib golongan Anda menjadi lebih baik, lebih diperhatikan, lebih dilindungi.  Siapapun yang menang, nasib Anda tidak tergantung pada Presiden terpilih, tapi pada diri Anda sendiri.
  2. Usahakan bersikap diplomatis, tidak usah terlalu mendukung salah satu capres dan juga jangan terlalu menentang capres yang lain. Karena kita tidak tahu pihak mana yang akan menang, siapa yang kita dukung bisa jadi kalah, sebaliknya siapa yang kita tentang bisa jadi justru menang. Oleh sebab itu perlu bersikap diplomatis, kita harus fleksibel dan selalu siap dengan kemungkinan apapun.  
  3. Hal yang terpenting adalah bagaimana Anda menjalin relasi dengan masyarakat mayoritas, dimanapun Anda tinggal, usahakan menjalin relasi yang baik dengan warga, tetangga, usahakan terlibat dalam kegiatan masyarakat baik di tingkat RT sampai yang lebih tinggi.  
  4. Di tingkatan yang lebih tinggi, akan sangat baik jika bisa ditumbuhkan tokoh-tokoh yang dengan lantang menyuarakan keadilan dan kebenaran. Selama ini sudah banyak tokoh seperti itu, saya sebut saja Romo Mangun, Romo Sandyawan Sumardi, lalu ada Kwik Kian Gie, juga Christianto Wibisono.  Mereka adalah pribadi yang luar biasa, yang punya kepedulian pada bangsa dan rakyat negeri ini.  Lebih banyak tokoh-tokoh seperti itu, golongan minoritas akan mempunyai nama harum di masyarakat dan Anda akan dihormati dan disegani.
  5. Perlunya keterlibatan dalam politik, bergabung dengan partai politik atau organisasi kemasyarakatan.  Ada catatan penting di sini, bahwa Anda tidak boleh sampai terlibat kasus korupsi, karena ini akan menjadi bumerang. Jadi pastikan bahwa Anda melakukan hal yang benar dengan cara yang benar, tidak terlibat dengan tindak pidana korupsi dalam bentuk apapun.   Jangan pula ikut dengan arus "mainstream" jika hal tersebut bertentangan dengan rasa keadilan masyarakat.  
Demikian beberapa catatan saya, mohon maaf jika ada kesan menggurui, tapi menurut saya itulah yang bisa dilakukan, jika Anda atau kita ingin bisa "survive" di negeri ini. 

Friday, June 27, 2014

Mencermati Debat Capres, Isu Pertahanan & Politik Luar Negeri

Menyaksikan debat capres yang ketiga asyik juga, khususnya setelah bosan dengan kampanye hitam penuh fitnah yg sangat ramai selama ini.

Secara umum baik Jokowi maupun Prabowo mempunyai pandangan kurang lebih sama yaitu bahwa ketahanan ekonomi adalah yang paling penting, bahwa kalau mau kuat, punya angkatan bersenjata yang kuat, berwibawa dan disegani, maka yang paling penting adalah membangun perekonomian negeri ini.

Namun bila kita masuk ke beberapa hal yang lebih rinci, lagi-lagi kedua pihak masing-maing punya "kesalahan"nya sendiri.

Sebagai contoh Jokowi mempertanyakan soal pengadaan tank Leopard, yg dikatakan tidak cocok dengan medan geografis Indonesia, bisa merusak jalan bahkan tidak ada jembatan yg sanggup menahan bobotnya dst.

Prabowo menjawab secara sangat normatif bahwa tentunya pihak TNI sudah melakukan kajian tentang hal tersebut, bahwa tentu telah dilakukan studi mendalam yg memperhatikan segala aspek. .Intinya Prabowo tidak ingin mempetanyakan keputusan TNI soal pengadaan tank Leopard tersebut.  Soal tank berat di daerah tropis, Prabowo berkilah bahwa tank berat digunakan di medan perang Vietnam (yang medan geografinya sama dengan Indonesia) tanpa ada masalah.  (catatan: sejauh ini hasil googling saya, belum ada info mengenati tank berat (MBT/main battle tank) di perang Vietnam, yg ada adalah tank kelas menengah.

Saya melihat bahwa kedua capres sudah berangkat dari pemikiran yang tepat (saya tidak berani untuk mengatakan "sempurna"), yaitu bahwa ketahanan ekonomi adalah yang utama.  Hal tersebut sudah menjadi  concern saya juga sejak lama.Tapi lagi-lagi kedua capres juga sama-sama "gagal" dalam implementasinya, Jokowi salah fokus, Prabowo malah lebih parah, karena tidak punya sikap kritis (menyerahkan sepenuhnya penilaian soal tank berat ke TNI).

Menurut saya yang menjadi isu bukanlah soal cocok tidaknya tank berat di daerah tropis, tank berat atau MBT (main battle tank) bisa mempunyai bobot hingga 60 ton.  Menurut saya isunya adalah urgensi membeli tank ini. Apa urgensinya, ancaman apa yg dihadapi. Apakah ancaman itu sudah sedemikian urgen (misalnya pasukan musuh sudah ada di perbatasan, tinggal menunggu komando untuk menyerang Indonesia ?).

Menurut saya tidak ada urgensinya Indonesia membeli tank Leopard, sebab tidak ada musuh nyata yang secara mendesak perlu dihadapi dengan tank berat.  Hal ini kemudian dikaitkan dengan kondisi ekonomi negara kita, dengan hutang luar negeri yang sudah menjadi beban pemerintah sebesar 269 Milyar US$, kita membeli 180 tank Leopard seharga 280 US$.  Dikaitkan dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini, bagi saya itu tindakan yang tidak masuk di akal sehat. Apalagi argumen Menteri Pertahanan yang mengatakan bahwa negara tetangga sudah mempunyai tank berat.  Menurut saya itu argumen yang tidak cerdas.

Menurut saya, sekali lagi menurut saya yg awam ini, negara yg paling berpotensi menjadi musuh nyata Indonesia saat ini adalah Malaysia, (sudah terbukti dengan pendudukan Malaysia atas beberapa pulau Indonesia). Ancaman tersebut tidak bisa dihadapi dengan tank berat, karena tidak mungkin terjadi perang terbuka dimana Malaysia melakukan invasi ke pulau Jawa misalnya, seandainya pecah perang, pasti terbatas di area yg diperebutkan, dan senjata yang lebih dibutuhkan (menurut saya yang awam ini) adalah kapal perang dan (terutama) kapal selam.

Selain isu tank berat, Prabowo juga membahas hal lain yang tak kalah aneh yaitu postur kekuatan TNI AD, yang dikatakan saat ini memiliki 160 batalyon tempur, padahal jumlah kabupaten ada lebih dari 500.   Singkat kata, idenya Prabowo adalah di setiap Kabupaten harus ada 1 batalyon tempur. Lagi-lagi menurut saya ini bukan hal yang urgen untuk dibahas. Karena komando teritorial menurut saya bukan prioritas, musuh kita adalah negara lain, bukan rakyat sendiri, oleh sebab itu penempatan satu batalyon di setiap kabupaten menjadi tidak relevan.   Lebih penting menurut saya adalah modernisasi persenjataan dengan mengutamakan produksi dalam negeri.  






 


Sunday, June 15, 2014

Dialog sensitif Menjelang Pilpres 2014

Beberapa hari lalu, saya bertemu dan berdialog dengan seorang sahabat, kawan dekat cukup lama, dia seorang non Muslim, tepatnya Katolik.

Meski kami berbeda keyakinan tapi kami bebas berdiskusi, mungkin karena sudah menjadi kawan sejak kecil, sudah ada rasa percaya dan tidak ada kekhawatiran untuk mengungkapkan pikiran secara terbuka.

Dia menyampaikan keprihatinan dan keheranannya, ada apa dengan bangsa ini. Keheranan bermula dari apa yg dilihatnya, yaitu begitu kuat dan banyaknya pendukung Prabowo Subianto sebagai capres. Padahal jujur saja menurut dia, Prabowo jauh lebih banyak "mudharat"nya, keterkaitan Prabowo atas kasus 1998, pemecatan dari dinas militer, begitu banyak fitnah dan kampanye hitan dari kubu Prabowo, lalu koalisi yang dibangun Prabowo yang terang-terangan merupakan koalisi berbasis transaksi dan bagi-bagi jabatan. Relasi atau jaringan yg dibangun Prabowo dengan partai-partai korup (meskipun PDIP juga korup).

Sahabat saya punya dugaan yang kemudian berubah menjadi keyakinan, bahwa dukungan publik pada Prabowo terutama karena satu hal yaitu sentimen agama (baca: ketidak-sukaan atau kebencian pada Kristen).  Itulah sebabnya seberapapun "dosa"nya Prabowo dan tingkah lakunya yang kotor (keterlibatan pada kasus 1998, fitnah, kampanye negatif, sikapnya yang pro Orba/Soeharto dan segala hal buruk lainnya) publik tetap akan memilih dia karena satu hal: koalisi Prabowo dengan partai-partai Islam.

Sebaliknya Jokowi, meskipun lebih merakyat, bijak dan punya rekam jejak yang bersih banyak orang tidak bisa menerima "persekongkolan" Jokowi dengan PDIP yang dianggap sekuler, kebijakan Jokowi yang dinilai pro Kristen bahkan pro Zionisme (meskipun tanpa bukti), dll.

Singkat kata, sahabat saya ini merasakan adanya aura bawah sadar masyarakat, adanya kebencian pada Kristen.  Dia sebut salah satu contohnya, waktu dia mendengar orang berkata: "Jangan pilih Jokowi jadi presiden, sebab nanti Ahok yg Kristen naik jadi Gubernur Jakarta". 

Jadi dia merasakan bagaiman sikap masyarakat yang bahkan lebih rela dipimpin penjahat asalkan dia pro Islam dibandingkan dengan seorang Kristen atau pro Kristen.

Diskusi kami berlanjut, saya katakan bahwa bisa jadi kegelisahan yang dia rasakan itu benar adanya.  Pertanyaannya sekarang adalah kenapa (warga Kristen begitu dibenci) dan bagaimana menghadapi ini (bagaimana seharusnya warga Kristen bersikap).

Saya katakan bahwa agama Kristen dan/atau Katolik punya dosa sejarah.  Penjajahan oleh dunia barat pada masa kolonialisme dibaca sebagai penjajahan oleh Kristen.  Selama perang salib, kaum Kristen melakukan kekejaman pada umat Muslim. Sekarangpun kampanye melawan terorisme yang didengungkan oleh Amerika (Barat) dibaca sebagai serangan terhadap Islam (sekalipun tidak sepenuhnya benar, karena Amerika melakukan kekejaman yang sama ke Amerika Latin yg Katolik).

Sahabat saya berpikir lama, terdiam dan mengangguk-angguk, "....bisa.jadi benar....."

Kemudian saya tambahkan, ".....tapi kalian orang Kristen, tidak perlu berkecil hati, karena Islam dan bangsa Indonesia sebetulnya punya toleransi yang besar.....".  Saya katakan bahwa sekalipun ada FPI yg dengan garangnya menggunakan kekerasan untuk "membela" Islam, tapi tidak sedikit umat Muslim yang tidak setuju dengan cara-cara FPI.....   Selain itu meskipun banyak sekali pendukung Prabowo yg dilihat sebagai pembela Islam, banyak pula pendukung Jokowi yang meletakkan bangsa dan negara ini di atas segala-galanya. Jadi, saya katakan lagi,"...... kamu masih tetap harus bersyukur........"

Saya lanjutkan, bahwa warga Kristen harus lebih peka, menyadari adanya "dosa sejarah" yang dilakukan oleh Kristen, yang mungkin masih lekat dipersepsi oleh banyak Saudara Muslim.

Saya tambahkan lagi untuk membesarkan hati sahabat saya bahwa selama ini sebetulnya sudah banyak juga umat Kristen atau tokoh Kristen yang memainkan peranan besar bagi bangsa ini, saya contohkan misalnya
Soegijapranata, seorang pejabat gereja yang sekaligus pemimpin pejuang, lalu orang-orang seperti Romo Mangun yang selalu tampil di depan membela wong cilik, lalu Romo Sandiawan Sumardi (yang  terang-terangan mendukung gerakan reformasi mahasiswa tahun 1998) juga Romo Magnis Suseno dan Mudji Sutrisno yang aktif menjalin relasi dengan kelompok-kelompok Islam.

Warga Kristen harus lebih aktif terlibat dengan bangsa ini, memainkan peranan penting dan menunjukkan keberpihakan pada rakyat.

Saya tambahkan pula bahwa Soeharto juga mempunyai peranan besar membuat warga Kristen tidak disukai, karena strategi Soeharto yang membungkam suara dan kekuatan Islam, sementara di lain pihak Soeharto menjalin relasi kuat dengan CSIS (group pemikir yang dibentuk oleh kelompok Kristen), tambahan pula salah satu tangan kanan Soeharto adalah Jendral LB Murdani yang beragaman Katolik.  Semua itu membuat kebencian banyak orang pada Kristen. Sekalipun belum tentu pemikiran tersebut benar, sebagai contoh sepanjang yg saya lihat Jendral LB Murdani adalah seorang militer tulen (menomor satukan bangsa dan negara, dan tidak ambil pusing dengan gereja).

.....lama kami terdiam......

Dialog dan diskusi panjang ditutup dengan doa dan harapan, siapapun yang terpilih memimpin negeri ini, semoga Indonesia menjadi lebih baik, rakyat sejahtera dan damai, hukum ditegakkan dan  korupsi diberantas, dan rakyat negeri ini bisa berdiri tegak dengan bangga: saya orang Indonesia..
.






Thursday, June 12, 2014

Wawancara dengan Jenderal Reformis

Selama ini saya amati, jarang sekali ada Jenderal yang punya pemikiran progresif, maju, terbuka, yg tidak lagi dikungkung oleh arogansi kuasa (dan senjata).  Saya sempat surprise juga waktu menyimak wawancara MetroTV dengan Letnan Jenderal (purn) Agum Gumelar, mantan DanJen Kopassus, sekaligus dulu anggota DKP (Dewan Kehormatan Perwira) yang melakukan penyelidikan atas kasus penculikan yg dilakukan oleh Prabowo Subianto.

Saya kira apa yg disampaikan Agum pada wawancara tersebut menarik untuk dicermati, terlebih saat sekarang ini dimana kita perlu informasi yang lebih lengkap terkait para Capres, rekam jejak dan sepak terjang mereka di masa lalu.

Selain menarik dicermati, beberapa bagian saya kira bagus dijadikan acuan, sebab masyarakat kita (harus diakui) mudah silau oleh sesuatu yang kelihatan hebat, lupa dengan esensi atau substansi masalah. Soal tegas misalnya, orang yang diam tidak banyak bicara tidak berarti kurang tegas, sebaliknya orang yang bicara lantang berapi-api bisa saja sebetulnya seorang yg mencla mencle tak berpendirian. Apa esensi tegas misalnya, menarik untuk mendengarkan pendapat Agum.

Hal lain yang saya kira menarik dari Agum adalah visinya soal Indonesia, bahwa pertama-tama kita harus mengutamakan Indonesia, bukan agama tertentu atau suku bangsa tertentu. Saat bicara soal penegakan hukum, Agum jelas menyatakan: tidak boleh lihat agama Islam atau Kristen atau Hindu, tidak boleh lihat jabatannya apa, siapa yg bersalah harus dihiukum.

Lebih jelasnya silakan Anda simak rekaman wawancara tersebut di Youtube sebagai berikut:


Link lain dengan isi yang kurang lebih sama: Pemecatan Prabowo dari militer di mata para pemecatnya. 

Tuesday, May 27, 2014

Apa yang terjadi 1998 (4)

Menjelang pemilihan presiden Indonesia tahun 2014 ini, isu tahun 1998 kembali muncul, karena salah satu "tokoh" tahun 1998 menjadi calon presiden negeri ini..

Pertanyaannya masih sama, soal apa yang sesungguhnya terjadi saat itu dan seberapa besar Prabowo terlibat di dalamnya.

Hingga saat ini, Prabowo dikaitkan dengan 1998 sebatas peranannya dalam penculikan aktivis pro reformasi saat itu. Tapi apakah betul hanya sampai di situ ?  Laporan dari TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) yang dibentuk pemerintah, jelas-jelas menyebutkan bahwa peristiwa kerusuhan 1998 bukanlah sesuatu yang terjadi spontan begitu saja oleh masyarakat tanpa rencana.  Berbagai penyelidikan menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut sudah dirancang dengan baik, terstruktur dan terorganisasi dengan rapi, serta ada indikasi melibatkan pasukan khusus atau pasukan berkemampuan khusus.

Sayang sekali bahwa pemerintah enggan atau tidak berani menindaklanjuti laporan TGPF tersebut.  Jangankan laporan TGPF, kasus penculikan aktivis itu sendiri yang sudah jelas-jelas ada pelanggaran oleh sekelompok perwira Kopassus, tidak dilanjutkan dengan pengadilan pidana.

Saya sempat terkejut membaca salah satu reportase tentang "Tim Mawar", nama group yang melakukan penculikan aktivis pada tahun 1998. Selengkapnya Anda bisa baca "Melacak Tim Mawar"

Jika Anda baca reportase tersebut, sadarlah kita bahwa kita hanya ditipu, pengadilan sandiwara dan hukuman bohong-bohongan, semuanya hanyalah dagelan semata-mata. Faktanya para pelaku penculikan karir militernya justru semakin cemerlang, beberapa bahkan - aneh bin ajaib - bisa menjalani pendidikan SESKOAD, pada saat (menurut hitung-hitungan) masih menjalani hukuman kurungan.

Peristiwa ini sekali lagi menunjukkan bahwa di negeri ini memang hukum belum ditegakkan atau memang tidak ada hukum di negeri ini ?

Bagaimana kita berharap negeri ini bisa maju dan makmur, jika hal yang paling mendasar seperti penegakan hukum hanyalah dongeng.  Penguasa (baca: pemegang senjata) bisa berbuat apapun semaunya dengan dalih keamanan nasional.

Mudah-mudahan peristiwa ini bisa mengingatkan Anda untuk bersikap bijak dalam memilih presiden mendatang negeri ini.



Tuesday, May 06, 2014

Mari Lindungi Anak-anak Kita......

"Sedih dan prihatin......" itu yang saya rasakan pada saat membaca berbagai berita mengenai pelecehan, kejahatan dan kekerasan seksual yang menimpa anak-anak kita. Kasus pemerkosaan terhadap anak-anak di Jakarta International School, kasus pemerkosaan anak-anak di Sukabumi dan masih banyak kasus lainnya.

Lebih menyedihkan lagi membaca berita di Majalah Tempo, yang mengatakan bahwa angka kejahatan pedofil di Indonesia saat ini adalah yang tertinggi di Asia.

Tidakkah Anda sedih membaca berita seperti itu ? anak-anak adalah bagian dari diri kita, darah daging kita, anak-anak adalah masa depan negeri ini.

Saya tidak ingin melakukan analisa atas gejala ini, apa yang menjadi sebab, apa yang menjadi latar belakang.

Satu hal saja yang saya ingin soroti bahwa peristiwa ini bisa terjadi -salah satunya- karena penegakan hukum yang mandul di negeri ini, Dan penegakan hukum adalah tanggung jawab pemerintah, presiden, para menteri, Kapolri, institusi POLRI, kejaksanaan, kehakiman dan entah institusi apa lagi.......

Satu contoh kecil saja,..... (bersambung) 



Monday, May 05, 2014

Ada Apa dengan Sistem Pendidikan Kita ?

Jangankan seorang manusia tewas dibunuh, bahkan hanya seekor hewan saja entah itu harimau atau gajah yang mati dibunuh adalah peristiwa menyedihkan.

Halaman berita kita akhir-akhir ini dipenuhi dengan hal-hal yang menyedihkan, mulai dari kejahatan seksual yang dilakukan kepada siswa/siswi di JIS (Jakarta International School), menyusul pelaku kejahatan pedofil di Sukabumi dengan korban lebih dari 50 anak laki-laki...

Pagi ini muncul berita lain yang tak kalah mengangetkan, seorang anak SD kelas V bernama Renggo, berusia 11 tahun, tewas menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan oleh teman-temannya di sekolah. Penyebabnya sepele saja, hanya karena Renggo tidak sengaja menumpahkan gelas minuman milik temannya seharga Rp 1.000.-  Itupun Renggo sudah minta maaf dan sudah mengganti minuman yang ditumpahkannya.

Singkat cerita Renggo dikeroyok oleh teman-temannya, mula-mula dipukuli dengan tangan kosong, tapi kemudian dipukul juga dengan gagang sapu, hingga akhirnya tewas.

Siapapun kita yang masih mencintai negeri ini, sepatutnya berduka atas kejadian ini. Saya sendiri sekalipun tidak mengenal Renggo sedih sekali dan menangis dalam hati, membayangkan seorang anak yang masih begitu belia harus mengalami penderitaan dan siksaan, -yang parahnya lagi- dilakukan oleh teman-temannya sendiri satu sekolah.

Pertanyaannya adalah kenapa ? ada apa ? apa yang salah ?

Jika ingin mencari jawab, tentu dibutuhkan investigasi mendalam dan evaluasi menyeluruh atas segala aspek, dan itu harus dilakukan bersama oleh berbagai pihak dengan pemerintah tentunya (Kementrian Pendidikan) sebagai pihak yang paling bertanggung-jawab.

Seorang teman berpendapat bahwa salah satu penyebab perisitiwa ini adalah karena tingginya beban pelajaran yang harus ditanggung para siswa (bahkan mulai dari Sekolah Dasar).  Beratnya beban pelajaran membuat siswa menjadi stress dan lelah, hal ini dikombinasi dengan pendidikan sikap dan perilaku yang  tidak memadai, yang memang tidak cukup menanamkan prinsip dasar dalam berperilaku dengan sesama (misalnya harus saling menghormati, tidak boleh berlaku kasar, tidak boleh menyakiti dan melukasi dsb).

Betul sekali bahwa sistem pendidikan bukan satu-satunya penyebab terjadinya kasus penganiayaan terhadap Renggo, tapi seharusnya peristiwa ini bisa dijadikan sebagai momen untuk mengevaluasi kembali sistem pendidikan kita, kalau dulu kekerasan siswa terjadi di level SMA/STM sekarang bahkan sudah mulai di tingkat SD........

Sistem hukum juga perlu dibenahi saya kira, dalam kasus Renggo, orang tua pelaku juga harus bertanggung-jawab, minimal orang tua tersebut telah gagal mendidik anaknya untuk menjadi orang yang bersikap baik pada orang lain atau teman sebayanya.  Orang tua pelaku harus mendapat sanksi hukum juga, setidak-tidaknya untuk menyadarkan mereka bahwa mereka mempunyai andil dalam terjadinya kejahatan ini.